Aku lupa referensinya, disebutkan bahkan memandang langit bisa menjadi obat jiwa: menepis sedih, memperluas perspektif dan membangun keinsyafan.
Memandang langit tidak sama dengan memandang gunung dan lautan. Pada referensi yang lain disebutkan bahwa memandang lautan luas lebih memperkaya jiwa dibanding memandang gunung. Sebab gunung tak menyembunyikan rahasia lagi bila kita sampai pada puncaknya. Sedang laut, lebih memiliki banyak lapisan rahasia, baik di dalamnya ataupun di ujung horizon, lagi pula, di sebelah sana ada ratusan pulau dan cerita yang belum terbaca.
Tentu akan lebih takjub bila kita dapat menikmati rasa memandang langit. Rasa itu bisa berupa sentuhan sains, spiritualitas dan sisi emosionil. Saat memandangnya, tergambar sosok diri yang berupa mikro kosmos, hanyalah setitik pasir di keluasan “hamparan pantai” semesta. Dan betapa sibuknya kita berlomba guna menerjemahkan waktu, sementara setiap elemen langit selalu bekerja sesuai Titah Pencipta. Hingga sampai ke batas muntaha, gerbang keagunganNya.
Memandang langit, membawa diri insyaf untuk rendah hati, bagai bintang bintang tinggi yang tampak rendah di atas air kolam.
Pandanglah langit, bagaimana ia bisa tegak kokoh tanpa tiang! Bagi setiap lapisan langit ada perhiasan yang selalu sedap di pandang mata.[]
Taufik Sentana
Peminat sastra sufistik.


