Oleh: Riza Nobel, salah seorang penulis buku Hidup yang Aku Syukuri
Ada tiga cara yang lazim dilakukan supaya dapat membaca buku. Pertama dengan membelinya, kedua mengunjungi perpustakaan, dan ketiga meminjam ke orang lain atau teman. Dua cara terakhir mudah dilakukan sebab tidak perlu mengerahkan biaya sepeser pun.
Di perpustakaan cukup banyak tersedia bacaan dan referensi sesuai yang dibutuhkan. Calon peminjam biasanya cukup mendaftarkan diri sebagai anggota, lalu mengambil untuk dibawa pulang sesuai ketentuan.
Selanjutnya, meminjam ke orang lain atau teman sekalipun itu gratis dan mudah, tapi tidak semua pemiliknya berkenan untuk meminjamkan buku. Pasalnya, ada yang khawatir dengan kondisi buku ketika dipinjam dan dikembalikan berubah, ada sebagian yang lain enggan meminjamkan buku, sebab sering berpengalaman sangat lama dikembalikan atau justru hilang tidak berganti.
Meskipun, awalnya saya tergolong orang yang gemar (bahkan menawarkan diri) meminjamkan buku ke orang lain, justru karena alasan-alasan seperti disebutkan di atas, kemudian mengharuskan saya mempertimbangkan kembali jika ada yang datang meminta pinjam buku.
Saya termasuk pribadi yang memperlakukan buku layaknya “anak kandung”, tak ingin dilukai. Buku yang yang dicoret–sekalipun dengan pensil, dilipat lembarannya sebagai batas baca, atau terkoyak itulah luka buku. Apalah arti, buku saja diperlakukan seistimewa itu. Demikian barang kali ada yang menduga.
Bagi saya buku adalah “harta” berharga, sekalipun bukan berlian permata. Berapa pun harga, jika sudah diwanti-wanti untuk membacanya dengan seksama, maka cepat atau lambat turut dimiliki.
Layaknya para pecinta buku, saya pun mengharuskan diri membeli buku tertentu ketimbang mendatangi pustaka atau meminjam pada orang lain. Mengapa (harus) membeli buku?
Semangat literasi
Dalil pertama adalah membeli berarti memiliki, dan memiliki berarti menghargai.
Saya percaya, orang-orang yang gemar membeli buku bukan semata-mata cukup atau banyak uang, tapi justru karena cinta membaca dan ingin mewarisi semangat literasi ke anak dan cucu.
Bagi saya membeli buku adalah investasi dan aset literasi. Investasi berarti, sekalipun saya harus mengeluarkan seratus atau dua ratus ribu saban bulan untuk beli buku, tapi manfaatnya justru lebih dari sekadar angka dua ratus ribu itu. Tak jarang, setelah membeli dan membaca buku saya kedatangan rezeki lain yang tidak disangka-sangka. Apakah itu yang dinamakan salah satu hikmah penuntut ilmu (baca: gemar belajar dan membaca) dimudahkan rezeki oleh Allah?
Aset literasi adalah semangat yang ingin saya kobarkan terutama untuk anak-anak di rumah. Bagaimana mungkin seorang ayah atau ibu ingin anaknya gemar membaca, jika tidak memberikan contoh pembiasaan membaca di hadapan anak. Buku-buku yang dibeli, dibaca, dan dikoleksi kelak menjadi “warisan” berharga yang tidak pernah habis nilai gunanya bagi mereka.
Buku bak wanita idaman
Banyak uang belum tentu mendorong seseorang untuk membeli buku. Sebaliknya, sedikit uang tidak menjadi hal, bagi orang itu tetap terdorong keinginan kuat untuk memiliki buku meskipun dengan perjuangan yang tidak biasa. Seperti, yang dialami oleh Fahim, salah seorang mahasiswa Surabaya.
Dia lebih memilih mengurangi jatah makan demi bisa belanja buku saban bulan. Baginya buku itu bagaikan wanita idaman. “Getarannya besar sekali. Kalau lihat buku, ibaratnya, pokoknya harus jadi milikku,” ujarnya, seperti dikutip dalam mojok.co.
Pengalaman membeli dan membaca buku sendiri juga tidak bisa disamakan dengan cara meminjam ke perpustakaan atau ke teman. Membaca buku milik sendiri tidak ada yang memberikan aturan tertentu, ia bisa dinikmati sampai kapan saja dan tak perlu diintervensi oleh siapa pun.
Satu bulan satu buku
Rasanya tidak perlu diuraikan di sini tentang tujuan dan manfaat membaca buku, sudah sangat banyak artikel yang diulas oleh para penulis lain di berbagai platform online. Cukup diketikkan kata kunci, puluhan tulisan akan tayang di sana.
Bagi yang sudah keranjingan dengan buku, membacanya membuat candu. Apalagi jika sudah tersihir oleh bacaan yang tidak bisa diajak berhenti, novel misalnya. Hanya pembacalah yang merasakan sensasinya itu.
Bagi yang ingin membangun kebiasaan jajan buku, tidak perlu pusing. Cukup miliki tekad untuk membeli satu buku setiap sebulan sekali. Tentukan bacaan apa yang paling disukai, lalu eksplor tentang topik tersebut melalui ruang pencarian google atau web penerbit.
Usahakan beli buku yang orisinil, bukan buku bajakan. Memang harganya sedikit fantastis, tetapi kepuasan yang dirasakan sangatlah berbeda dibanding membeli buku bajakan. Bukan soal yang penting bacaannya, tetapi perkarakan juga terkait keberkahan ilmunya. Membeli buku bajakan sama dengan mendukung dan memakmurkan perut pembajak tersebut.[]








