Riazul Iqbal, penulis asal Pidie, Aceh, menapaki perjalanan menulisnya sejak masa kecil. Berawal dari kebiasaan membaca koran bola di SMP dan tabloid Nova yang dibeli ibunya, mengantarkannya pada dunia tulis-menulis. Bahkan masa SMP, teman-temannya sering meminta bantuan Riazul menulis surat cinta.
Semangat menulisnya terus berkembang di SMA. Kala itu, Riazul mulai membeli buku-buku dan menulis diary pribadi. Dia pun aktif mengikuti lomba menulis.
Perkembangan teknologi juga memainkan peran, dengan kehadiran Facebook yang memberikan dorongan tambahan melalui respons positif dari pembaca dan teman-teman Riazul.
Dukungan dari lingkungan terdekat mendorong Riazul untuk terus berkarya, yang akhirnya mengantarkannya memiliki beberapa buku karya sendiri.
Menurut Riazul, kunci kesuksesan sebagai penulis dengan terus membaca dan menulis secara konsisten.
“Perlu membaca yang banyak, perlu banyakkan karya baik buku dan menulis di platform. Setelah banyak tulisan (kuantitas) nanti baru ditingkatkan kualitas. Yang penting menulis dulu di tahap awal. Nanti baru menulis yang penting,” ungkap Riazul dihubungi portalsatu.com/, Jumat, 9 Februari 2024.
Meskipun mengalami krisis kreatif seperti penulis lainnya, Riazul memiliki cara unik untuk mengatasi hal tersebut. Dia mengunjungi toko buku, mengikuti kelas, seminar menulis, mendengarkan podcast menulis, dan menonton film yang terinspirasi dari buku.

Saat ini, Riazul telah menulis empat buku dengan beragam tema: “Sudah Kubilang Jangan Jadi Guru”, “Ramadan Orang Awam”, “Hikayat Musang”, dan “Perawi Hardisk”.
Selain penulis, dia juga pengajar di sekolah Sukma Bangsa Pidie, dan aktif di beberapa komunitas menulis.
Dalam upaya mempromosikan karyanya, Riazul memanfaatkan media sosial dan bertemu dengan komunitas pembaca. Genre favoritnya untuk menulis dan membaca meliputi komedi, novel lucu, cerita luar negeri, kumpulan cerpen, dan sejarah.
Kepada penulis pemula, Riazul menyarankan agar terus membaca untuk memperkaya kosakata dan wawasan. Baginya, membaca dan menulis adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.
“Perbanyaklah membaca, karena dengan membaca dapat menambah kosakata dan wawasan untuk menulis, ibarat sebuah teko yang harus diisi air biar ada air yang bisa dikeluarkan dari teko tersebut, begitu juga dengan otak kita,” ujar Riazul.
Bagi penulis muda yang ingin fokus pada budaya Aceh, Riazul menyarankan banyak berinteraksi dengan orang tua yang memiliki pemahaman mendalam tentang budaya, membaca manuskrip sejarah, dan aktif menghadiri acara budaya.
Dengan semangat dan dedikasinya dalam dunia tulis-menulis, Riazul terus menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama di kalangan penulis muda di Aceh dan di luar sana.[]
Laporan: Khairul Sani Umraiti







