ACEH UTARA— Kepala Cabang Dinas (Kacabdin) Pendidikan Wilayah Kabupaten Aceh Utara, Muhammad Johan, S.Pd., M.Pd., mengeluarkan buku hasil karyanya yang berjudul ‘Membangun Budaya Mutu Sekolah di Aceh Utara’, akan didistribusikan kepada siswa jenjang SMA, SMK, dan SLB untuk meningkatkan literasi.

Buku tersebut menggunakan beberapa istilah kunci seperti Aneuk Meutuah, Beucarong, Beumeusyuhu (Anak patuh, pintar, dan sejahtera hingga tersohor atau masyhur-tujuan akhir pendidikan holistik), Aneuk Talindong, Agama Tapeukong (Anak dilindungi, agama ditegakkan-fondasi lingkungan belajar), IA 2024 (Instrumen akreditasi 2024-sistem penilaian akreditasi terbaru), Performance-based (Pendekatan berbasis kinerja aktual, bukan sekedar dokumen), dan sejumlah istilah lainnya. Buku itu diterbitkan 82 halaman melalui Bandar Publishing Lamgugop, Syiah Kuala, Banda Aceh pada 2025.

Johan, dalam keterangannya, Kamis, 6 November 2025, mengatakan, buku ini adalah jawaban atas kegelisahan bersama bahwa bagaimana membangun generasi Aceh Utara yang tidak hanya pintar, tetapi juga berakhlak, berbudaya, dan berdaya saing.

“Melalui pendekatan yang menyeluruh dan berbasis kinerja, buku ini tidak hanya memandu sekolah menjadi bermutu, tetapi juga mengajak kita semua untuk kembali kepada khitah pendidikan Aceh yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan kearifan lokal,” kata Muhammad Johan.

Menurut Johan, buku ini adalah peta jalan bersama sebuah ikrar bahwa kebangkitan Aceh Utara dimulai dari ruang kelas, dipimpin oleh guru-guru yang inspiratif, didukung masyarakat yang peduli dan dijiwai nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendabulu.

“Mari kita wujudkan sekolah sebagai benteng terdepan pertahanan budaya dan pendidikan Aceh Utara yang unggul, berkarakter, dan sejahtera. Buku ini merupakan amanah dari petuah indatu orang Aceh, bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mempertahankan jati diri, menguatkan budaya, dan membangun peradaban. Dalam semangat Aneuk Talindong, Agama Tapeukong, kita wajib menciptakan lingkungan belajar yang melindungi dan meneguhkan nilai-nilai keislaman,” ujar Johan.

Lanjut Johan, melalui filosofi Aneuk Meutuah, Beucarong, Beumeusyuhu, itu dipacu lahirnya generasi yang taat, cerdas, dan sejahtera. Buku tersebut harus menjadi pedoman setiap guru,
kepala sekolah, dan pengawas di Aceh Utara bukan hanya untuk memenuhi standar nasional, tetapi untuk melahirkan generasi yang bangga menjadi orang Aceh, siap
bersaing di tingkat global, dan tetap berpegang pada ajaran Islam dan adat istiadat.

“Inilah wujud nyata dari Aceh Utara Bangkit. Bangkit dengan identitas, bangkit dengan mutu, dan bangkit dengan karakter. Alhamdulillah, buku ini saya menulis sebuah ikhtiar bagaimana membangun budaya mutu pendidikan di Aceh Utara. Jadi, dalam buku ini ada beberapa kata kunci yang saya sebut sebagai kata kunci kearifan lokal,” ungkap Johan.

“Jadi, arahnya saya ingin membawa pendidikan di Aceh Utara ini bagaimana semua sekolah mengejar kepada mutu. Agar lebih tepat, maka saya berikhtiar menulis hingga melahirkan sebuah buku sebagai pedoman di sekolah, dan bisa membagi informasi kepada guru-guru tentang cara mengejar mutu serta membudayakan mutu di sekolahnya masing-masing,” ujarnya.

Johan menyebut, setelah ia dilantik oleh Gubernur Aceh, H. Muzakir Manaf (Mualem) sebagai Kacabdin Pendidikan Wilayah Aceh Utara pada 19 Mei 2025, tentunya tugas yang berat ini harus dipikul dan bagaimana punya konsep arah pendidikan dengan baik ke depan.

“Maka saya berinisiatif menulis sebuah buku ini sebagai konsep arah pendidikan yang saya pimpin di Aceh Utara yang menaungi jenjang SMA, SMK, dan SLB. Saya susun isi dalam buku itu berdasarkan pengetahuan saya, juga berkoordinasi dengan editor dan teman-teman universitas yang ada di Aceh Utara seperti IAIN saat itu yang sekarang menjadi UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, dan Universitas Malikussaleh (Unimal),” kata Johan.

Johan menambahkan, launching buku itu akan dilakukan nanti setelah berkoordinasi dengan Bupati Aceh Utara bagaimana sistemnya. Karena di dalam buku tersebut juga ada pengantar Bupati, pengantar Gubernur Aceh, dan pengantar praktisi-praktisi yang dianggap berpengaruh terhadap pendidikan di Aceh Utara.

“Tentu pendidikan ini bukan hanya untuk satu lembaga semata. Artinya, dunia pendidikan itu merupakan tanggung jawab bersama yang harus dijalankan. Kita berharap buku ini bisa menjadi pedoman bagi kepala sekolah untuk mengejar mutu,” ujarnya.

Oleh karena itu, Johan berharap kepada para kepala sekolah dan guru-guru khususnya di tingkat SMA, SMK, SLB, untuk terus membangun mutu pendidikan di Aceh Utara. Diharapkan dengan adanya pedoman buku itu bisa bergerak dan berinovasi. Jangan menyerah untuk membangun mutu pendidikan, karena pendidikan ini adalah solusi bagaimana menyelesaikan semua persoalan yang ada di daerah.

“Kemudian, harapan kita bersama bahwa sumber daya manusia (SDM) yang ada ini bisa bersaing di tingkat nasional maupun internasional, dan bagaimana menjadi SDM yang unggul untuk ke depan,” ungkap Johan.[]