LHOKSEUMAWE – Ustaz Ikhwansyah, M.A., melakukan peusijuek sebagai tanda dimulainya pembangunan rumah untuk Nuraini, 60 tahun, janda miskin di Desa Banda Masen, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe, Selasa, 6 Februari 2018. Usai peusijuek, Ustaz Ikhwansyah yang merupakan dai kondang di Lhokseumawe, juga memimpin doa bersama.
Informasi diperoleh portalsatu.com/, pembangunan rumah sederhana untuk kaum duafa itu dilakukan dengan cara “Meuseuraya” atau bergotong royong. Dana untuk pembangunan rumah itu dikumpulkan dengan cara saling membantu, yaitu hasil sumbangan para dermawan.
Ustaz Ikhwansyah, pegawai negeri sipil (PNS) yang juga warga Desa Uteun Bayi, Kecamatan Banda Sakti, bersama rekannya, Jalaluddin dan Herman Ibrahim, tokoh pemuda Desa Uteun Bayi, mengumpulkan dana dari teman-teman mereka untuk kebutuhan membangun rumah Nuraini.
“Gubuk Nek Nuraini sudah sangat memprihatinkan, atap terbuat dari daun rumbia sudah bolong-bolong, sehingga di dalam gubuk itu terendam banjir saat musim hujan. Dinding terbuat dari papan juga sudah lapuk, dan sudah bolong-bolong,” ujar Herman.
“Bahkan, meskipun hujan sudah berlalu lebih sepekan, tapi air masih tergenang di dalam gubuk Nek Nuraini,” kata Jalaluddin memberikan kesaksian.
Itulah sebabnya, kata Jalaluddin dan Herman, pihaknya merasa terpanggil untuk mengumpulkan dana dari para sahabat agar bisa membangun rumah yang layak untuk Nuraini. “Karena Nek Nuraini butuh tempat tinggal yang layak supaya merasa nyaman dalam beribadah,” kata Herman.
“Jadi, stop menyalahkan orang lain, stop menyalahkan pemerintah, mari kita bergotong royong karena inilah aksi nyata. Stop bicara kegelapan, mari setiap dari kita menyalakan satu lilin sampai akhirnya akan terang benderang,” ujar Herman menamsilkan.
Bahu membahu dalam menggalang dana untuk membangun rumah Nuraini dipimpin oleh Ustaz Ikhwansyah sebagai ketua tim, Herman selaku koordinator lapangan dan Jalaluddin menjadi bendahara. “Ini murni gerakan hati, kasih sayang. Bagi yang memiliki kemampuan membantu yang lemah,” ujar Ustaz Ikhwansyah.
Ustaz Ikhwansyah menjelaskan, selama ini banyak orang yang memiliki keinginan membantu kaum duafa. “Mungkin jika kita hanya bergerak seorang diri, belum mampu membangun satu rumah kaum duafa, tapi ketika kita semua sudah bersatu, berotong royong seperti ini, tentu membuahkan hasil yang nyata,” katanya.
Ustaz Ikhwan kemudian mengutip firman Allah. “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapatkan bahagian”. (QS. Adz-Dzariyat: 19).
“Hai orang-orang yang beriman, keluarkanlah/nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu”. (QS. Al-Baqarah: 267).
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapatkan) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung, dan punggung mereka, (lalu dikatakan) kepada mereka: ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu’.” (QS. At-Taubah: 34-35).
Ustaz Ikhwansyah, Herman, dan Jalaluddin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman mereka atau semua pihak yang sudah menyumbang uang dan tenaga untuk keperluan pembangunan rumah Nuraini di Banda Masen.
Setelah di-peusijuek oleh Ustaz Ikhwansyah, Selasa (kemarin) pagi, Herman, Jalaluddin dan rekannya langsung bekerja membangun pondasi rumah Nuraini sampai sore hari. Pekerjaan dilanjutkan pada Rabu pagi sampai pembangunan rumah kaum duafa itu akan selesai.
Klik tanda panah di bagian samping foto di atas untuk melihat foto-foto lainnya.[]



