BANDA ACEH – Aktivis YEL, Ian Singleton, menyebutkan pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil tidak sebatas membangun akses transportasi ke daerahnya. Namun bisa juga dilakukan dengan hal lain, seperti penyediaan dana untuk merelokasi penduduk dari daerah terisolir.

Hal tersebut disampaikan Ian menyikapi sejumlah rencana pemerintah untuk membuka ruas jalan baru di kawasan hutan, di Aceh. “Ini contoh ya, kalau di Rawa Singkil ada kampung yang namanya Buloh Seuma. Kalau nggak salah itu, yang tinggal disana nggak banyak. Mungkin nggak lebih dari 50 kepala keluarga. Tapi dibikin jalan dari Trumon sampai Buloh Seuma, dan mau lanjut dari Buloh Seuma sampai Singkil lewat pantai pinggir suaka margasatwa,” ujarnya usai press conference HAkA di 3in1 Coffee, Banda Aceh, Rabu, 28 September 2016.

Dia mempertanyakan apakah dana pembangunan jalan tersebut bisa dialihkan untuk relokasi warga terisolir di Buloh Seuma ke wilayah lain. Menurutnya keberadaan masyarakat di Buloh Seuma tersebut bukan karena pilihan mereka, tetapi keterpaksaan karena tidak ada lokasi lain untuk ditempati.

“Kalau dana pembuatan jalan ini dialihkan untuk relokasi warga di Buloh Seuma ke tempat lain, mungkin mereka akan lebih senang. Itu kalau serius membantu masyarakat miskin,” katanya.

Dia mengatakan dengan begitu, pemerintah selain bisa membantu masyarakat miskin juga bisa melestarikan lingkungan. (Baca: Keluh Kesah Geuchik Desa Terisolir)

Sebelumnya, Ian Singleton, menyebutkan hutan Aceh sangat penting bagi dunia. Terutama bagi kehidupan  empat satwa endemik yang hanya hidup di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), Aceh.
Keempat hewan endemik yang dimaksud adalah orangutan, gajah Sumatera, harimau Sumatera, dan badak Sumatera.

Ian menyebutkan kawasan hutan ini tidak hanya menjadi isu lokal, tetapi juga isu internasional. Apalagi dengan banyaknya titik api dan pembukaan ruas jalan baru di kawasan hutan lindung.

“Pembukaan ruas jalan sering memicu perambahan hutan, dan pembukaan ruas jalan ini sebenarnya bukan demi kepentingan ekonomi masyarakat kecil, tapi keuntungan bagi pengusaha proyek,” kata Ian.

Dia mengatakan saat ini pembangunan yang dilakukan di Aceh tidak sesuai fakta di lapangan. Ian mencontohkan dengan rencana sejumlah pembangunan ruas jalan baru yang berada di kawasan hutan lindung, termasuk di KEL Gayo Lues.

“Padahal populasi padat itu ada di pesisir utara Aceh, kenapa membuka jalan baru di KEL yang jumlah penduduknya sedikit? Seharusnya pembangunan dipusatkan terlebih dahulu di daerah padat penduduk ini,” katanya.[]