Oleh Taufik Sentana*

Dalam term interaksi sosial Islam, kesemuanya tampak menonjolkan pentingnya berbaur, kebersamaan,  solidaritas dan saling menghargai. Bahkan, urusan iman bisa tidak kelar bila tidak beres dengan tetangga.

Keluarga sebagai unit terkecil masyarakat Islam menjadi penyangga umat dan bangsa. Pentingnya keluarga dan pengaruhnya yang besar telah banyak kita simak.

Bila dikaitkan dengan interaksi sosial dengan ciri saling memengaruhi, maka keluarga yang satu memiliki “ikatan” dengan keluarga lainnya. Ikatan itu, kata Buya Hamka, bila hanya ikatan sedarah tak akan kuat, mestilah dengan ikatan akidah. Dengan ikatan ini, kemashlahatan umat akan terbangun. Dengan ikatan ini kita saling mewarnai dan berwasiat dalam kebenaran.

Maka banyak kita jumpai ayat dengan bunyi “Jadikan aku termasuk ke dalam golongan orang-orang saleih”. Kata “termasuk” menurut penulis, bisa jadi, amal kita tidak sebanyak amal saleh yang lainnya dalam golongan ini. Akan tetapi, Allah telah menetapkan kita ke dalam orang-orang saleh, betapa indah. Seperti siswa yang berada dalam kelas “istimewa”, di dalam kelas itu masing-masing siswa berkembang sesuai tingkatannya.

Hal lainnya, ada pada bunyi doa yang sering kita pinta dalam hal keluarga, “Jadikan (keturunan/keluarga) kami sebagai imam dari orang-orang yang bertakwa”. Duhai, lihatlah betapa berat mencapai maksud tersebut.

Untuk mencapai derajat takwa saja akan mesti melampaui banyak tahapan dan bahkan ujian. Bagaimana pula untuk menjadi imam dari mereka yang bertakwa?.

Bonus bermakmum

Namun, bila kita hubungkan dengan pentingnya menjalin ikatan akidah, maka dalam praktik di atas, bila kiranya keluarga kita belum pantas agaknya menjadi imam untuk orang-orang takwa, kita bisa menjadikan keluarga kita “bermakmum” kepada keluarga yang tampak bertakwa dalam pandangan kita (berdasarkan keseharian, tanggung jawab dan kecenderungan amal ibadahnya). Misalnya dengan terlibat dalam aktivitas sosial dan keilmuan secara bersama, atau menghadirkan majelis ilmu ke dalam rumah kita, dsb.

Dari sini kita tetap akan mendapatkan “bonus” karena telah bergabung dengan “orang-orang yang bertakwa”. Termasuk bonus syafaat pada hari di mana setiap orang (persahabatan dan ikatan) menjadi musuh bagi yang lainnya, kecuali golongan yang bertakwa.[]

*Taufik Sentana
Dari Ikatan Dai Indonesia Cab. Aceh Barat.
Mengelola seminar dan pelatihan untuk lembaga dan komunitas.