Oleh: Taufik Sentana*

Bulan penuh sepi sendiri
di langit pagi bulan baru
di dekatnya awan jernih
dan mentari menoleh pelan pelan.

Orang orang masih menyimpan
beberapa keping mimpi kemarin
dan bulan beredar pada kadarnya.
lalu pada garis rindunya
iapun sampai jua
pada pertemuan semula.

Menatap bulan penuh
di pagi bening bulan baru,
harapan terpaut di kaki langit
membingkai horison
mewarnai sudut pandang.

Dari denyut ke denyut
kitapun menjemput pundak zaman
dalam segala rona.[]

*Penikmat prosa.