Banyak yang menghitung bahwa kita sudah menghabiskan sepertiga dari waktu kita hanya untuk tidur, itu belum dihitung saat kita masih balita, dimana waktu tidur kita sangat panjang. Waktu yang habis untuk tidur itu dihitung rerata dari delapan jam yang kita gunakan untuk tidur. Jadi, pada usia tigapuluh tahun, kita sudah tidur selama sepuluh tahun. Bisa saja sebagian besar dari waktu tidur kita itu tidak diawali doa dan zikir yang menyebabkan tidur tadi berbuah “kebaikan”, bukan hanya ritus alamiah.
Ide mencuri waktu dalam catatan kecil ini, diantaranya karena waktu yang telah “terbuang” tadi, itu belum dihitung dengan beberapa aktivitas lainnya yang cenderung menghabiskan waktu secara percuma. Sementara sekarang telah ramai dikenal bahwa waktu merupakan bagian dari “aset” yang tak tampak, dengan nilai yang sangat tinggi, lebih tinggi dari emas atau seluruh isi dunia ini.Ukuran seperdetik saja dapat menentukan posisi juara dalam balapan formula satu.
Sudah tentu waktu yang telah habis tersebut tak bisa kita perbarui kembali atau kita ulangi lagi. Sehingga membutuhkan kearifan tersendiri dalam menyiasati waktu yang tersisa. Inilah perlunya mencuri waktu tersebut. Terutama bagi yang merasa waktunya banyak terkuras oleh aktivitas yang panjang dan karena kegiatan yang tidak efektif.
Berikut beberapa hal yang dapat diaplikasikan sebagai bentuk “pencurian waktu” yang baik:
Pertama, bangun lebih awal. Dengan melakukan ini kita dapat menyiasati jeda waktu yang “lebih” untuk keperluan lain, terutama untuk keperluan spiritual atau intelektual, seperti berzikir dan istighfar menjelang subuh, atau membaca literatur yang diperlukan dalam bidang pribadi atau kerja kita. Bahkan ada yang menggunakan waktu itu untuk hal bisnis, seperti membaca email dll.
Kedua, memerhatikan kualitas amal. Setiap aktivitas seorang muslim disebut amal, dan amal itu akan berbuah nilai plus bila sesuai standar tertentu. Misal, mendahulukan niat dalam beraktivitas karena “lillahi Ta'ala dan kepentingan umum”. Atau memilih amal amal istimewa yang dapat menghimpun banyak “kebaikan” (balasan pahala) sekaligus, seperti membaca Alquran (bisa di sela waktu kantor), shalat jamaah dengan 270 kebaikan dibanding bila shalat sendiri yang hanya 10 poin, itupun bila pahalanya tak berkurang.
Ketiga, Amalan berjangka panjang. Ini hampir sama dengan pilihan yang kedua di atas. Tapi bagian ini lebih berdampak secara waktu dan sosial. Misalkan kita membuat satu karya wujud (dalam bidang apa saja) sekali sehari atau durasi tertentu, maka itu sama nilainya kita telah membangun aset dan nilai guna dari waktu kita tadi, bila terkelola dengan baik,kan berdampak di kemudian hari. Sedangkan secara sosial, kita bisa memilih amal/aktivitas yang memberikan “akses” kebaikan bagi orang lain, seperti memberikan lampu penerang jalan di sisi kampung yang gelap untuk kemudahan anak anak mengaji ke balai.
Keempat, menyusun skala prioritas. Ini sama halnya dengan “mengelola” waktu. kegiatan ini tidak hanya bisa menambal waktu kita yang telah “terbuang” di hari kemarin, tapi bisa juga menghemat separuh dari waktu kita yang tersisa di depan.
Demikianlah beberapa catatan pendek tentang mencuri waktu agar pribadi kita semakin tumbuh dan produktivitas terjaga.
Taufik sentana
Praktisi pendidikan Islam.
Merancang seminar SDM, Kepemimpinan dan Produktivitas diri.




