15 Agustus 2016 kemarin kita menperingati 11 tahun perdamaian Aceh. 11 tahun sudah konflik puluhan tahun berakhir. Amat banyak yang sudah kita rasakan di balik damai ini. Kita patut bersyukur atas pencapaian ini. Wajib terus menanam nilai-nilai damai. Damai yang harus dimaknai pada upaya yang lebih konfrehensif. Slogan damai itu indah harus digambarkan yang lebih konkret. Bukan hanya dari hitungan keamanan.

Setelah 11 tahun amat terasa kita mulai lupa. Kita merasa bahwa yang kita rasakan saat ini adalah hal biasa. Tidak ada proses sebelumnya. Buktinya hampir tidak ada kemeriahan peringatan atau berbagai refleksi seperti di masa awal. Naifnya eksekutif dan legislatif Aceh saat ini umumnya mereka yang dahulu berada di luar sistem. Damailah yang memberi mereka ruang seperti yang sedang mereka nikmati saat ini.

Melihat fonomena ini kita patut prihatin. Pemangku kepentingan lupa diri dan lupa sejarah. Anak-anak muda mulai tidak punya pengetahuan tentang perdamaian. Upaya melestarikan kisah ini gagal dilakukan. Bilapun ada, hanya berupa seruan atau ucapan. Sedikit sekali tindakan konkret. Misal ditulis atau dibukukan. Diajarkan pada generasi baru.

11 tahun perdamaian ini belumlah mampu memenuhi ekspektasi publik. Di awal perdamaian rakyat berharap banyak. Dalam bayangan mereka gerbang kesejahteraan telah terbuka. Damai dalam konteks keamanan memang menjadi hal utama. Tapi tanpa dibarengi kesejahteraan semua menjadi tidak lengkap. 11 tahun harapan sejahtera makin terasa sayup-sayup. Kesejahteraan hanya milik elite dengan keluarga dan kroni. Rakyat kebanyakan tetap “breuh bak puncong ija“.

Kalangan bawah masih “pajoh sikhan preut“. Ini bentuk kegagalan atas cita-cita luhur perdamaian. Para pemimpin kita “sibok reupah tumpok“. Yang sehari-hari mereka pertontonkan adalah opera sabun berjudul “klok meuklok“. Semua merasa berhak mendapat paling banyak atas berkah damai. Mereka melupakan untuk siapa perdamaian ini.

Tidak ada satupun klausul perdamaian ini yang membolehkan rakyat diabaikan. Kenyataannya banyak tujuan dari perdamaian yang makin jauh dari harapan. Akhirnya kita rakyat hanya “keulapek tapak” para elite.

Perdamaian kemudian membuat Aceh punya banyak keistimewaan. Anggaran berlimpah. Para birokrat dan elite kekuasaan penikmat utama perdamain ini. Baik dengan cara yang halal seperti berbagai tambahan penghasilan. Atau cara haram dengan kongkalingkong atau korupsi. Terhadap rakyat bagi mereka “mate kon lakoe, rugoe kon atra“. Tragis bukan?

Namun, apapun yang terjadi, tetaplah kita rakyat yang utama harus menjaga damai ini. Sebab bila damai ini gagal, rakyat “lagee pliek lam peuneurah”. Terjepit dalam situasi apapun. Elite jelas punya banyak cara menghindar dari perang. Bahkan mungkin mereka kembali hidup tenang dan nyaman di seberang lautan sana.

Maka tentu kita tidak boleh “lagee boh trueng lam ji-ee”. Dipermainkan oleh mereka, para elite. Di masa lalu kita sudah merasakan pahitnya. Mereka yang dahulu hidup nyaman di luar sana malah menjadi penikmat utama atas penderitaan kita dahulu. Karena itu, damai tidak boleh terusik agar kita punya kesempatan sejahtera.

Mereka yang “menari” di atas penderitaan rakyat sekarang akan segera meninggalkan panggung. Masih ada hukum alamiah Tuhan yang akan menghentikan mereka.[]