Jumat, Juli 19, 2024

Rekomendasi HUDA Berisi 22...

BANDA ACEH - Pengurus Besar Himpunan Ulama Dayah Aceh (PB HUDA) mengeluarkan rekomendasi...

Lebih 170 Bangunan Rusak...

ACEH UTARA - Sebanyak 173 bangunan dilaporkan rusak akibat diterjang badai (hujan deras...

Inilah Struktur Lengkap Kepengurusan...

BANDA ACEH - Ketua Umum Majelis Syuriah Pengurus Besar Himpunan Ulama Dayah Aceh...

Samsul Azhar Dilantik sebagai...

BANDA ACEH - Pj. Gubernur Aceh, Bustami Hamzah, melantik Samsul Azhar sebagai Pj....
BerandaNewsMendengar Joel Pase...

Mendengar Joel Pase di Pulo Aceh

Aceh tanoh lon sayang peunulang raja diraja
Aceh beutapeutimang beugot jipandang le donya…

Aceh ngon Turki na seujarah
dalam kisah raja ngon raja…

Demikian beberapa bait dari syair Joel Pase dalam lagu yang belum dirilis. Lagu ini menyairkan Aceh yang pernah gemilang di dalam sejarah dan hubungannya dengan Turki di masa Kesultanan Turki Usmani.

Lagu ini saya buka pada malam, ternyata dikirim sekira pukul 15:15 WIB, 20 Februari 2016. Itu saat dalam perahu dari pelabuhan Lampulo, Banda Aceh ke pelabuhan Seurapung, Pulo Breueh, Pulo Aceh, Aceh Besar. Lagu ini telah dinyanyikan pertama kali pada acara Travelog Aceh ke Istanbul yang dibuat oleh PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh-Turki) dan YTB (Yurtdisi Turkeler Basbakanlik), 2014, dan kini masih dalam proses produksi secara tunggal.

Pulo Aceh, terletak di lepas pantai Sumatra, lebih luar dari pulau Weh walaupun titik nol kilometer Indonesia di Pulau Weh. Kalau disebut Pulau Weh terluar, maka ini pulau ini pulau sudah di luar. Pulo ini, masih dibiarkan hidup ala kadar.

Lagi-lagi, apabila melihat pulau indah dan bisa dihuni di wilayah Aceh, saya teringat Tumasik (Singapura), sebuah negara maju yang dulu hanya terdiri dari kampung-kampung nelayan, persis Pulo Aceh saat ini.

Pulo Aceh, apabila kita ingin ke sana, harus naik perahu dari Lampulo, sekira pukul 14:00 siang, sehari sekali, selain Jumat. Untuk keluar dari pulo Aceh, kita hanya bisa naik perahu sekira pukul 07:00 pagi. Sehari sekali, selain Jumat. Belum ada pelabuhan udara.

Belanja perjalanan sekita RP25 ribu per orang. Belum aca calon bupati Aceh Besar atau gubernur yang menjanjikan transportasi lebih bagus ke dan dari Pulo Aceh. Kalau naik haji gratis, sudah ada yang menjanjikannya walaupun itu tidak bisa dipenuhi.

Pulo Aceh ikut didera tsunami 2004. Rumah-rumah di pesisir adalah bangunan baru yang letaknya berserakan, tidak dibuat sebagaimana aturan bangunan di negeri pulau sebagaimana di Singapura. Saya tidak tahu, apakah Bupati Aceh Besar atau BRR yang tidak punya ide untuk mengatur letak rumah-rumah saat membangunnya kembali. Aspal yang pernah dibangun di sebagian jalan utama pulau ini telah rusak, dan sepertinya belum ada rencana untuk memperbaikinya.

Mata pencaharian penduduk di sini adalah melaut dan bertani. Hasil ikan tangkapanya dijual ke Lampulo. Para nelayan dari pantai utara Timur Aceh sering ke sini untuk mencari ikan di perairannya. Tempat kumpulan ikan dengan daratan lebih dekat di sini, lautnya lebih dalam daripada di lepas pantai Timur Utara lainnya. Ya, ini menjurus ke Samudra Hindia, bukan Selat Melaka.

Bagi para pendatang seperti nelayan atau pengunjung untuk sekedar melihat-lihat, mereka punya zona bebas sekira seratus meter di sekeliling pelabuhan. Selebihnya harus mengikuti budaya di sana yang masih dijaga secara bergenerasi.

Jangan coba-coba datang ke Pulau Aceh untuk pacaran, atau bicara-bicara dengan para gadis di sana. Itu bukan wilayah Anda, wilayah Anda hanya seratus meter di sekitar pelabuhan perahu.

Pulo Aceh memerlukan bangunan-bangunan lembaga pendidikan yang lebih baik, perlu guru sekolah dan agama yang memadai. Mereka tidak butuh janji. Mereka adalah orang-orang pulau yang hidupnya nyaman. Dari laut ke ladang, dari ladang ke laut.

Kembali pada lagu Joel Pase. Dengan keadaan Pulo Aceh seperti sekarang, mungkinkah Joel Pase membuat konser di Pulo Aceh? Sepertinya lebih memungkinkan terlebih dahulu dibuat di Istanbul atau Singapura daripada di Pulo Aceh.

Thayeb Loh Angen, pengurus Sekolah Hamzah Fansuri. Esai ini ditulis di acara Kemah Sastra Hamzah Fansuri, 20-23 Februari 2016, Pulo Aceh, Aceh Besar.

Baca juga: