STASIUN televisi merupakan media paling penting yang harus dimiliki oleh Aceh, baik itu dimiliki oleh pemerintah maupun milik swasta. Namun, selama ini hanya ada TVRI Aceh yang hanya menghidupkan siaran selama beberapa jam dalam sehari dan ada juga Aceh TV yang siarannya terbatas tempat tertentu.

Stasiun televisi sendiri di Aceh yang sahamnya harus dimiliki oleh orang Aceh atau pemerintah Aceh merupakan kebutuhan penting dalam bidang menyiarkan informasi, seni, budaya, dan dakwah. Selain itu, stasiun televisi dapat memunculkan banyak rumah produksi dan seniman.

Selama ini, masyarakat kita, baik di gampong maupun di kota, terutama perempuan dan remaja, diayon oleh sinetron (sinema elektronik) dan film-film yang disiarkan oleh stasiun televisi Jakarta. Hampir seratus persen siaran itu tidak ada gunanya, bahkan merusak pola pikir masyarakat Aceh.

Sebagai contoh di mana orang tahu cara merayakan tahun baru Masehi, di mana mereka tahu Valentine, pakaian buka aurat, di mana mereka tahu Ronaldo, Messi, ISIS, dan lainnya? Apa bukan dari siaran televisi?

Walaupun begitu, pemerintah dan pengusaha di Aceh belum mengambil langkah untuk mengatasi hal itu, dan para cendikiawan di dayah dan kampus, serta tokoh masyarakat belum ada yang menyerukannya. Mereka diam seperti tidak punya mulut untuk bicara.

Menurut sebuah sumber, belanja yang diperlukan untuk mengurus dan menyediakan semua alat untuk sebuah stasiun televisi, selain kantor, adalah sekira satu miliar Rupiah lebih, Bukankah pemerintah di Aceh atau pengusaha Aceh banyak yang memiliki uang yang bisa digunakan untuk investasi ini?

Rumah Produksi Film Besar

Rumah produksi film yang profesional dalam skala besar yang sahamnya harus dimiliki oleh orang Aceh atau pemerintah Aceh, diperlukan di Aceh karena banyak hal seperti sejarah, tempat wisata, pendidikan, dan sebagainya yang ada di Aceh perlu untuk diperkenalkan kepada masyarakat dunia melalui film.

Sebagaimana siaran televisi, film atau video merupakan media terbaik dalam menyampaikan pesan atau dakwah. Moral-moral orang kita, terutama remaja rusak karena mereka dipengaruhi oleh film dan sinetron yang mereka tonton.

Oleh karena itu, pemerintah atau pengusaha di Aceh perlu memperhatikan bidang bisnis ini. Selain itu, bisnis perfileman besar juga merupakan media dakwah yang kuat untuk dipakai.

Sebagai contoh, mengapa orang-orang kita menganggap Amerika itu hebat? Karena dalam film-film mereka diperlihatkan seolah mereka pahlawan yang punya senjata canggih. Sementara pada kenyataannya, Amerika dan negara lain itu sama kuat, tetapi Amerika Serikat meyakinkan kita melalui fim bahwa mereka hebat.

Selain itu, film tersebut pun dipakai untuk membenarkan mereka dalam menyerang negara lain terutama negara Islam seperti Iraq, Pakistan, Libya, dan lainnya. Di dalam film mereka memperlihatkan bahwa mereka jagoan dan pahlawan (padahal palsu) sementara orang negara Islam yang mereka serang dibuat seperti penjahat. Padahal Amerikalah yang menyerang negara orang Islam itu, penjajah.

Itu ironis saat orang Islam sendiri menonton film itu dan mempercayai bualan palsu Amerika yang diperlihatkan di film-filmnya itu. Kita harus juga membuat film-film seperti itu untuk mengenalkan bahwasanya Aceh itu hebat.

Maka, pemerintah Aceh dan pengusaha di Aceh, hendaknya menangani bisnis ini. Kita membutuhkan rumah produksi film yang besar dan profesional. Kita butuh banyak film layar lebar yang dibuat di Aceh, oleh orang Aceh, dengan uang orang atau pemerintah Aceh.

Selain itu, banyak pabrik, kebun, peternakan juga dibutuhkan di Aceh. Misalnya: peternakan, kebun dan pertanian seperti lada, pabrik perakitan elektronik, pabrik pengolahan makanan laut dan air tawar, pabrik makanan ringan, pabrik pakaian, pabrik obat herbal, pabrik sabun, beternak unggas seperti itik secara modern dengan skala besar.

Perlu juga didirikan pabrik sirup, memanfaatkan halaman rumah sebagai apotik hidup, pabrik pengolahan kakau, pabrik oli dari sawit, ladang dan pabrik rumput laut, pabrik keramik, pusat kontrol distribusi hasil produksi di Aceh, pabrik olah minyak nilam, pabrik alat mencuci, alat rias, pabrik olahan nanas, pabrik keramik, dan sebagainya.

Semoga Allah menolong kita dalam mewujudkannya. Amin.[]

Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan dan politik, pengurus Sekolah Hamzah Fansuri (SHF), pencetus gerakan intelektual Aceh Muda, jurnalis, penulis novel Aceh 2025.