SIMEULUE – Aceh yang terletak di kawasan paling barat nusantara mempunyai banyak sumber daya alam yang beraneka ragam, sehingga pada masa penjajahan dulu tidak sedikit negara barat yang mengincar Aceh sebagai salah satu negara jajahannya walaupun tidak sempat menjajah sebagaimana daerah lain di nusantara.
Salah satu jenis tumbuhan yang menjadi incaran mereka adalah cengkeh. Sosok pohon cengkeh mempunyai dimensi fungsi termasuk daunnya yang di olah menjadi minyak cengkeh.
Minyak cengkeh merupakan termasuk kedalam jenis minyak atsiri yang dihasilkan dari penyulingan bagian tanaman cengkeh, baik daun dan bunga cengkeh itu sendiri.
Masyarakat Aceh telah melupakan peninggalan dalam pemamfaatan cengkeh dalam hal ini minyak cengkeh. Namun di balik kelangkaan dan ketidakpedulian masyarakat Aceh terhadap minyak cengkeh, ada seorang sosok yang sangat peduli terhadap produksi minyak cengkeh, beliau bernama Sulaiman dan M. Jamil dua pilar produsen tradisional minyak cengkeh Aceh yang masih tersisa dinegeri Serambi Mekkah ini.
Sosok Sulaiman dan M. Jamil merupakan anak dan ayah asal Kembang Tanjung, Pidie yang mencoba mengadu nasib di negeri Sinabang itu.
Sulaiman diminta oleh orang tuanya selepas tidak lagi menyambung pendidikan di dayah MUDI Mesjid Raya yang terbentuk faktor ekonomi berusaha membantu sang Ayah di Simeulue.
“Saya diminta oleh Ayahanda untuk membantu penyulingan minyak cengkeh dalam mendompang ekonomi keluarga untuk adik yang masih menempuh pendidikan,” kata pemuda enerjik kelahiran Pidie itu, Rabu, 22/2/2017.
Sebagai produsen minyak cengkeh, katanya, seluruh bagian tanaman cengkeh mengandung minyak, namun bagian cengkeh berupa bunganya memiliki kandungan minyak yang paling banyak. Sedangkan daun dan ranting cengkeh juga menghasilkan minyak, keduanya pun penghasilan sampingan bagi petani cengkeh yang memanen bunga cengkeh untuk rokok.
Mereka cukup mengumpulkan daun dan ranting yang runtuh di sekitar pohon dan melakukan penyulingan sederhana untuk mendapatkan minyak cengkeh kasar. (bersambung).[]



