Sejak beberapa tahun lalu, pertanyaan tersebut muncul di benakku. Mengapa saudagar di Aceh belum tertarik bisnis berbasis seni dan budaya? Apakah mereka tidak menyukai hal itu atau belum tahu bahwa hal tersebut juga menguntungkan dari sisi bisnis, atau mereka tidak mengerti tentangnya?

Bisnis dalam bidang seni dan budaya, seperti membuat film layar lebar bertajuk sejarah atau hal serupa, seni kriya, seni gambar khas Aceh, dan sebagainya.

Belum tertariknya orang Aceh untuk terjun ke dalam bisnis tersebut membuatnya sulit untuk bangkit mengembangi seni serupa yang datang dari luar. Memang ada beberapa karya di Aceh tentangnya, namun masih bersifat ala kadar dan tidak mempedulikan budaya, hanya mementingkan penjualannya sehingga sampah moral pun disertakan.

Bisnis bidang budaya dan seni tersebut dapat menguntungkan dua arah, yakni mengangkat nama Aceh, menghasilkan uang  sekaligus mengangkat nama pembuatnya. Hal itu yang mesti menjadi bahan pertimbangan.

Sebagai contoh, salah seorang saudagar di Aceh atau turunan Aceh, mengucurkan uang untuk sebuah proyek film tentang Sultan Iskandar Muda dengan menghabiskan uang sekira lima sampai lima belas miliar Rupiah. Prosesnya dari penelitian (riset) dengan melibatkan para ahli sejarah sampai selesai produksi dan pemutaran di bioskop.

Kalau hanya seorang tidak berani–walau memiliki uang yang menganggur sebesar itu–boleh diajak rekan-rekan saudagar lain dalam jumlah banyak sehingga menjadi sebuah konsorsium (Gabungan perusahaan setekad).

Perlu saya pertegas di sini bahwa ideologi apapun tidak akan berhasil jika tidak diiringi dengan kepemilikan ekonomi. Bidang seni dan budaya di Aceh juga begitu. Tidak ada artinya kampanye kebudayaan yang kami buat sekiranya para saudagar atau pengusaha di dan dari Aceh mengabaikannya. Kami butuh kalian untuk proyek-proyek seni dan kebudayaan.

Sekiranya film itu dibuat, maka penjualannya dapat diperluas untuk bioskop di seluruh Indonesia, dan untuk luar negeri bila memungkinkan. Untuk dapat mencapainya, sejak pembuatan awal kita libatkan orang-orang dari Hollywood, Hongkong, atau Turki yang kini juga mulai menguatkan film-film.

Kalau para saudagar itu tidak melihat ini sebagai bisnis, maka yang muncul hanya buatan (produk) tiruan bernilai sampah-sampah yang hasilnya merendahkan Aceh sendiri. Kami tidak bisa bergerak sendiri. Sudah masanya kalian para penguasa ekonomi di negeri ini turun melibatkan diri.[]

Thayeb Loh Angen, penulis novel Aceh 2025.