Mengapa Pemuda Sekarang Suka Lagu Galau?

Oleh: Thayeb Loh Angen*

Dari sepuluh nyanyian atau lagu yang beredar di pasaran di Aceh dan Indonesia, diperkirakan, sembilan darinya adalah lagu sedih atau galau. Apakah ini kebetulan. Apa yang menyebabkan hal itu?

Prilaku politik dalam suatu negeri mempengaruhi mental masyarakat seluruh lapisan sosial dan umur. Sebagian orang dapat mengatasinya, sementara yang lain, tidak. Khusus bagi orang muda yang baru muncul ke dunia dan belum berpengalaman, keadaan politik yang labil akan melemparkan mereka ke lembah kebingungan.

Prilaku para poitikus pengurus pemerintahan yang dinilai cenderung tanpa prinsip moral, bersikap temparemental dan arogan, membuat para muda remaja galau. Oleh karena itu, secara naluri mereka mencari hiburan supaya dapat melupakan sejenak ketidakteraturan lingkungan sosial dunia yang baru mereka huni.

Tanpa disadari, alam bawah sadar mereka memerintahkan untuk menenggelamkan diri ke dalam game, nonton film drama, lagu-lagu galau, dan sebagainya. Prilaku tersebut semacam orang dahaga, untuk melepaskan hausnya ia malah meminum air laut, bukan air tawar. Dahaga pun tidak tertawar. Semakin diminum semakin haus.

Secara sosiologi, ini bencana sosial, tetapi hal begini tidak ada dalam program kerja satuan tugas penanggulangan bencana, kementerian atau dinas kebudayaan, perguruan tinggi, sekolah, dan sebagainya.

Selera muda remaja itu akan berganti dengan beberapa cara, di antaranya

  1. Prilaku politik yang labil berubah menjadi stabil dan berwibawa. Ini tidak mudah diubah, kecuali muncul seorang tokoh besar sang pembaharu.
  2. Para budayawan, seniman, para penulis, produser lagu dan film, manager media, melahirkan karya yang bersemangat, heroik kembali. Ini lebih mudah untuk dilakukan karena melibatkan orang-orang kreatif secara bebas, asalkan ada orang yang meyakinkannya.

Penyebab yang membuat muda remaja menenggelamkan dirinya ke dalam kegalauan harus diputuskan. Ada manfaat besar yang akan diambil oleh bangsa ini apabila para muda remajanya adalah orang-orang yang punya semangat hidup tinggi dan lebih banyak tersenyum.

Para penulis lirik lagu, para produser, harus membersihkan sudut pandang mereka sendiri dulu supaya para penyanyi dan peminat lagu mereka dapat menggantikan seleranya. Ada sebuah kalimat bodoh dan bersifat penipuan yang sering dikeluarkan oleh produser dan pengarang lagu, “Lagu seperti itu yang diminati. Ini bisnis, kami menjual yang laku.”

Itu dusta, karena fakta menunjukkan sebaliknya. Lagu di Indonesia yang paling banyak dinonton di Youtube sekarang adalah lagu Lagi Syantik yang diproduksi oleh Nagaswara dan dinyanyikan oleh Siti Badriah. Lagu yang dikeluarkan sejak Maret 2018 itu dapat melampaui jumlah penonton lagu lain dalam sebulan.

Kini, Agustus 2020, Lagi Syantik telah dinonton 600 juta kali lebih. Sementara penonton lagu galau, yang disebut produser dan pengarang lagu sebagai lagu yang diminati, jauh tertinggal.

Sebenarnya, kalimat “itu yang diminati’ bukanlah pendapat penikmat lagu, tetapi itu pendapat produser dan pengarang lagu. Mereka sendiri yang masih terperangkap di dalam kegalauan, sehingga menularkannya ke dalam lagu yang mereka sebarkan.

Pada intinya, orang hanya mengambil apa yang disediakan. Untuk orang yang harus, apabila yang ada cuma air garam, air tuak, maka terpaksa meminum itu.

Marilah kita memproduksi karya seni yang bermanfaat dan memberikan semangat hidup bagi orang lain. Berkaryalah terus, baik berupa lagu, puisi, cerpen, novel, lukisan, film, dan sebagainya.

Perbaikilah pandangan anda terhadap hidup ini. Lihatlah, dunia yang diciptakan oleh Tuhan ini begitu indahnya. Apabila ada yang tidak baik menurut anda, silakan diperbaiki, bukan meratapinya apalagi menambah kegalauan. Sebarkanlah kebaikan dan semangat hidup. Teruslah berkarya.[]

*Budayawan.