Juru bicara Negara Jerman meralat pernyataan kementriannya–yang mengatakan Turki mendukung kelompok teroris– demi memperbaiki hubungan dengan Turki.

Keadaan politik terlalu cepat berubah, padahal beberapa bulan sebelumnya Jerman dengan bangga membuat resolusi perang di Armenia yang menuduh Turki.

Yang bisa dipelajari dari ini adalah kita hanya dapat mempertahankan kebenaran dan menang jika berpikir logis dan rasional serta memiliki kekuatan. Punya daya tawar, sebagaimana dimiliki Turki (Erdogani) sekarang.

Saya teringat isi novel Orhan Pamuk berjudul My Name is Red, di sana ditulis “Turki adalah pusat perpaduan peradaban Timur dan Barat”. 

Novel itu sendiri–walaupun Orhan adalah orang sekuler–dimulai dengan motto dari ayat Alquran yang artinya “Hanya milik Allah Timur dan Barat”. Saat itu saya masih terkejut, ternyata ada novel yang dibuka dengan ayat Alquran.

Jerman adalah koordinator Uni Eropa. Di masa Romawi Barat, bangsa Jerman juga penguasanya. Sebentar saja Romawi Barat pun runtuh, dan Rumawi Timur (Bizantium) semakin kuat dan menjadi negara adidaya, berpusat di Konstantinopel, Istanbul sekarang.

Pola Romawi Barat serupa Uni Eropa, yang hanya sebentar bertahan. Sejarah selalu mengulangi polanya.

Yeni Turki 2023 yang dicanangkan oleh Turki Erdogani, tidak akan dapat dibendung walaupun dikhianati dengan berbagai cara, mulai dari demonstrasi, bom, sampai ke percobaan kudeta–nafas terakhir–dilakukan, tetapi Turki malah semakin kuat.

Yeni Turki adalah Turki Baru. 2023 berartinya genapnya 100 tahun runtuh Turki Usmani dan didirikannya Republik Turki yang sekuler. Turki baru adalah Turki yang teratas dalam semua hal di dunia, negara adidaya, yang bahagia dan melindungi yang lain.

Sistem yang dipakai AS, Uni Eropa, NATO, dan lainnya dicontoh dari Turki Usmani. Maka ketika orang Turki sendiri di masa Erdogan, bangkit dan besar kembali, lalu memakai pola itu lagi setelah memperbaharuinya, maka tentu saja para peniru itu akan kebingungan dan tunduk.

Hal itulah yang membedakan Turki dengan Iraq, Mesir, Libya, dan lainnya. Turki Erdogani lebih dulu menyiapkan dirinya, memperkuat ekonomi, pendidikan, dan teknologi rakyatnya, baru setelah itu meluaskan pengaruhnya ke negara sekeliling dan aliansi negara-negara lain yang lebih jauh. Fokus Erdogani adalah menguatkan rakyat, membahagiakan mereka, lalu Turki tidak terkalahkan.

Sejak Erdogani berkuasa dari 14 tahun lalu, semua impian orang Turki pun tercapai. Turki dengan bangga bisa kembali berjalan tegak di muka bumi ini seraya berkata, “Saya orang Turki”.

Oleh karena itu, ketika orang Turki tahu ada pihak yang mencoba mencuri kebanggaan itu melalui kudeta, mereka tidak rela. Mereka tidak akan membiarkan siapapun merebut kehormatan yang telah ada. Karenanya, orang-orang sipil penduduk Turki keluar dan menghadang tentara pengkudeta pada 15 Juli 2016. Mereka mengambil pengkudeta dari tank dan melemparkannya ke jalan Istanbul.[]

Thayeb Loh Angen, penulis Novel Aceh 2025.