Bila merujuk pada nash Alquran, kata musibah diindentikkan dengan kalimat istirja', inna lillah, yang bermakna bahwa apapun yang menimpa kita merupakan jalan untuk memperbaiki hubungan kita kepada Allah. Sehingga dengan konsep ini kita dapat terus berbaik sangka atas ketetapan -Nya, lalu tak lupa mengecek hubungan sosial kita antar sesama dan dengan lingkungan yang lebih luas.
Tentu kita masih teringat betul dengan kejadian yang menimpa saudara muslim kita di Selandia Baru, jelas itu merupakan suatu musibah, terutama bagi keluarga yang ditinggalkan dan bagi kaum muslimin, bahkan musibah juga bagi kemanusiaan di bumi.
Tapi belum tentu berupa “musibah” bagi mereka yang menjadi korban (meninggal) dalam pembunuhan keji tersebut. Sebab, dalam keyakinan kita prosesi ibadah shalat merupakan penyangga dari semua kesalihan. Siapapun tentu berharap agar diwafatkan dalam keadaan baik (sedang beribadah), oleh karena itu kematian mereka saat beribadah dan bahkan di hari Jumat pula, akan dikompensasi Allah dengan balasan syahid di jalanNya, sebagaimana diyakini bahwa orang yang mati syahid tentu tidak merasakan perinhnya ruh saat keluar dari tubuh, hanya seperti gigitan semut, kemudian Allah akan mengampuni mereka dan memberi balasan terbaik.
Ukhuwah sebagai Terapi
Dengan persepsi syahid tersebut, tentu memberikan gambaran bagi kita tentang kata “musibah” tadi. Walaupun kita tidak menafikan musibah lainnya seperti kebakaran, banjir besar, gunung meletus, gempa dan sebagainya. Hanya lewat lisan Nabi kita Muhammad SAW bahwa kita hendaknya juga menjaga diri dan berlindung dari musibah yang lebih besar, musibah yang telah menimpa umat terdahulu setelah Rasul diutus dan kitab diberikan kepada mereka. Yaitu musibah dalam agama kita, musibah yang menimpa keyakinan kita, yang dengan musibah tersebut hilanglah iman dari diri kita (secara personal) dan dari sistem sosial kita, hingga pudar pula marwah (kewibawaan Islam).
Agar terhindar dari pangkal musibah di atas, kita juga perlu untuk terus menggalang Ukhuwah Islamiyah. Yaitu dengan berkomitmen atas semua ketentuan Allah (tali agama Allah) dalam setiap aspek kehidupan kita.
Kita juga mesti menjauhkan iri, dengki dan dendam khususnya sesama muslim, juga kepada umat lainnya, sebab pada mulanya kita adalah satu umat, sampai akhirnya berselisih, mengingkari Rasul Allah dan Kitab (Al-Baqarah:213). Kemudian kita juga perlu mengedepankan akal yang jernih daripada mengikuti emosi agar ukhuwah tadi tidak rusak. Disamping itu semua, rasa terlalu cinta pada dunia juga akan memudarkan ukhuwah. Ketika ukhuwah memudar dan rasa dengki menjalar serta abai dalam berwasiat kebaikan, maka itulah pangkal musibah kita:
“Yaa Rabb, jangan sampai musibah terjadi dalam agama kami ini”
Oleh Taufik Sentana
Ikatan Dai Indonesia. Kab. Aceh Barat



