Sabtu, Juli 13, 2024

Besok, Mahyuzar akan Terima...

ACEH UTARA - Dr. Mahyuzar, M.Si., akan menerima Surat Keputusan (SK) Mendagri tentang...

Jabatan Pj Bupati Aceh...

ACEH UTARA - Masa jabatan Penjabat Bupati Aceh Utara, Dr. Mahyuzar, genap satu...

Panwaslih Aceh Instruksikan Buka...

BANDA ACEH - Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Aceh menginstruksikan Panwaslih Kabupaten/Kota segera membuka...

KAMMI Sebut Perlu Forum...

BANDA ACEH - Pengurus Daerah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Banda Aceh...
BerandaNewsMengenang Tragedi Idi...

Mengenang Tragedi Idi Cut dan Arakundoe

Tugu itu berdiri kokoh penuh dengan makna bagi masyarakat Aceh Timur. Monumen itu dikelilingi pagar besi berlantai keramik lengkap dengan sebuah pamplet yang bertuliskan  “Tugu Perdamaian Tragedi Idi Cut, 3 Februari 1999”.

Tugu yang dibangun melalui bantuan BRA pada tahun 2012 itu  menjadi bukti nyata di mana sebuah tragedi pertumpahan darah hingga merengut nyawa beberapa masyarakat Aceh Timur pada masa itu.

Tragedi tersebut tidak akan hilang dalam jiwa rakyat Aceh. Tragedi pertumpahan darah itu terjadi tepatnya di Simpang Kuala, Kecamatan Idi cut, Kabupaten Aceh Timur, Rabu dini hari, 3 Februari 1999 silam.

Isu yang berkembang pada saat itu bakal diselengarakan sebuah ceramah  atau dakwah tentang idelogi Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dengan dalih itu pihak  pengamanan sehingga  menyusun strartegi agar acara itu tidak terlaksana sampai memakan korban jiwa.

Hal ini diakui oleh salah saktu warga Idi Cut Muhammad, saat ditemui portalsatu.com, 3 Februari 2016. Muhammad menyebutkan dirinya saat itu masih berusia 19 tahun, sedikit banyaknya dia mengetahui dan melihat insiden berdarah yang terjadi waktu itu.

“Diduga itu dakwah tentang GAM, jadi aparat saat itu melarang kita membuat acara itu, tapi masyarakat tidak ingin mengubah jadwal dakwah sehingga melanjutkan kegiatan itu. Maklum waktu itu  kondisi sangat kacau, sedang terjadi perang besar di Aceh,” katanya.

Pada pukul 00.00 wib, 3 Februari 1999 singkat cerita, kata Muhammad, meskipun acara dakwah sorenya sempat diminta untuk dihentikan, namun acara tersebut tetap berlanjut hingga larut malam. Sehingga usai acara itu insiden penembakan brutal oleh oknum pun terjadi tak terbendungi.

“Kejadian jih woe bak dakwah watenyan, meunyoe masalah jak bak dakwah tanyoe di Aceh kon rame, jadi nyan keuh hinan ju, jitimbak le awak pakek loreng, tam tum tam tum aju, kenong ureueng, na yang merumpok plueng na yang kenong bude rubah lam pageu,” katanya.

Menurut keterangan Muhammad, usai penembakan itu massa yang mulanya berjumlah ribuan itu lari terkocar kacir menyelamatkan diri masing- masing, hingga dirinya masuk ke sebuah rumah masyarakat mencari pertolongan.

“Mandum plueng, yang keunong-keunong bude ka jipeusapat, na yang dicok jipeuek lam moto, na yang meuteumeung, jidrop jipoh,” kata Muhammad.

Pada saat itu , lanjutnya, keadaan semakin memanas aparat keamanan mulai mengusai seluruh lokasi di wilayah Idi Cut, suara jenis truk reo milik TNI pun terdengar gaduh dari kejauhan. Muhammad mengaku tidak mengetahui persis apa yang sudah terjadi kepada masyarakat yang telah ditangkap.

Hingga pagi tiba dia mendengar beberapa orang yang dikenalnya telah menjadi mayat dan ditemukan di sungai Arakundoe.

“Peu kejadian lom lhuh nyan, kamoe hana that meuteupue le karena teungoh meupesiblah nyawong maseng-maseng, oh bengoh na yang kamoe turi meninggai meurumpok mayet jiboh lam guni di Krueng Arakundo,” katanya.

Amatan portalsatu.com, di tugu perdamaian tersebut tertulis korban–korban jiwa yang meninggal dalam kejadian itu.

Di antaranya, seperti tertulis di tugu itu, nan–nan ureueng yang jiboh lam Krueng Arakundoe nakeuh: Hasbi Bin Saleh 35 Tahun, Irwansyah Bin Usman, 20 tahun, Karimuddin Bin Ibrahim, 19 tahun, Saiful Bahri, 18 tahun, Ridwan Bin Mak Syah 20 tahun, Jailani Bin Ahmad 18 tahun, Jamaluddin Bin Harmi 27 tahun.[](tyb)

Baca juga: