Oleh: Taufik Sentana*

Ini cerita beberapa hari yang lalu, saat saya mengantarkan kembali anak tuk nyantri di Misbahul Ulum, Lhokseumawe. Saya berjanji tuk menemui beberapa sahabat yang berluang waktu antara zuhur dan ashar.

Tentu ini adalah pertemuan yang singkat dan seakan tiba tiba. Tapi tidaklah mengurangi keakraban dan kehangatan. Kami berempat berbincang, bertukar kabar dan menggali bahagia bersama dalam hal hal yang mungkin dijangkau.

Hal terberat yang dibincangkan adalah tentang pendekatan bernegara kita yang sarat intrik dan jual beli jabatan, kerancuan feodealisme dan koloni(isme) sampai ke sikap permisif masyarakat modern.

Adapun letak kebahagian kami adalah saat masih dapat memberi andil dengan proyeksi tugas masing masing. Semua dengan poros kerjanya sendiri dan fokus dalam upaya tidak membebani negara, sebagai profesional, swastawan atau pegawai. Bahwa nilai kita diukur dengan pengalaman, integritas dan sumbangsih kita bagi kehidupan (keluarga dan masyarakat)

Kebahagian kita adalah saat memberikan manfaat, mengambil nilai lelah yang halal dan tidak menyerobot hak hak orang lain, serta menyisakan ruang kontemplasi untuk berbagi dan saling memahami.

Selintas dalam perjamuan kecil di cafe kecil Simpang Line itu, kami membincangkan juga soal buku bersama tentang memoar seorang sahabat lainnya Toba Alm. Ini adalah bentuk lain dari cara kami menggali bahagia dalam ukhuwah dan persahabatan.[]

*Peminat literasi sosial.
Takzim khusus buat Mh, Wd dan Rs dan rekan ikapda Aceh.