Kudeta dan serangan teroris membuat citra Turki terpuruk. Kunjungan wisatawan berkurang. Di sisi lain, upaya ”pembersihan” kelompok prokudeta terus dilakukan. Berikut laporan CANDRA WAHYUDI, wartawan Jawa Pos.

RENTETAN teror mengguncang Turki dalam waktu yang beriringan. Pada 28 Juni, 18 hari sebelum kudeta militer yang akhirnya gagal, Bandara Internasional Istanbul dihajar serangan bom bunuh diri.

Sebanyak 28 orang tewas. Sebelumnya, pada 8 Juni, sebuah bom mobil meledak di salah satu distrik paling sibuk di Istanbul. Korban tewas sebelas orang, tujuh di antaranya polisi.

Turki seolah akrab dengan serangan teror dalam setahun terakhir. Sasarannya adalah Ankara dan Istanbul. Dua kota paling penting di Turki. Ankara adalah pusat pemerintahan.

Sedangkan Istanbul adalah jujukan wisatawan sekaligus tempat perputaran ekonomi. Sepanjang 2016, sedikitnya ada lima ledakan besar dengan korban tewas menembus angka 100.

Kondisi tersebut membuat angka kunjungan wisatawan ke Turki menurun. Istanbul adalah kota nomor enam di dunia untuk jumlah kunjungan turis. Spot paling terkenal di sana adalah Blue Mosque.

Istanbul juga memiliki beberapa museum yang menjadi destinasi favorit turis mancanegara. Jangan lupakan sensasi mengarungi Selat Bosphorus yang membelah wilayah Asia dan Eropa.

”Setelah serangan teroris dan pecahnya kudeta, angka wisatawan ke Istanbul turun drastis. Sampai setengahnya,” kata M. Sya'roni Rofii, mahasiswa program doktor dari Indonesia yang tinggal di Istanbul sejak 2011.

Pemerintah Turki memang meningkatkan prosedur keamanan sebagai respons atas beragam aksi terorisme dan kudeta. Di bandara, screening masuknya warga negara asing diperketat.

Pendatang yang mencurigakan bakal di-interview dengan lebih ketat. Di luar bandara, pengamanan tempat-tempat strategis ditingkatkan.

Belajar dari kejadian sebelumnya, sasaran serangan teroris adalah lokasi yang berhubungan dengan publik dan petugas keamanan.

”Pemerintah menyiapkan tentara khusus untuk melakukan pengamanan. Mereka memiliki kewenangan untuk menangkap orang yang dianggap mencurigakan,” kata Sya'roni.

Pascakudeta, tugas pasukan khusus itu semakin represif. Mereka menyasar berbagai kalangan yang diduga terkait dengan kubu pemberontak. Mulai kantor pemerintahan, kampus, markas militer, hingga kantor media.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut istilah ”bersih-bersih” dengan kalimat ”pembersihan para pengkhianat”.

Dalam waktu singkat, puluhan ribu orang ditangkap dengan tuduhan seragam: berafiliasi dengan kelompok Fethullah Gulen dan mendukung kudeta.

Sebanyak 81.494 orang dipecat dari berbagai institusi. Selain itu, 17.740 orang ditahan. Dari kalangan militer, 5.226 prajurit ditangkap.

Itu belum termasuk 151 jenderal atau sepertiga dari jajaran perwira tinggi di militer Turki. ”Pembersihan” juga merambah wilayah hukum. Sebanyak 1.684 jaksa dan hakim ditahan.

Operasi ”bersih-bersih” itu sungguh tanpa ampun. Semua lini disikat. Termasuk media. Sebanyak 47 wartawan diciduk.

Mereka berasal dari koran Zaman yang dituding menjadi corong propaganda kubu Gulen. Selain itu, 24 stasiun televisi dan radio yang diduga memihak Gulen diberangus.

Erdogan benar-benar total dalam menjalankan program ”pembersihan para pengkhianat”. Meski situasi keamanan pascakudeta berangsur normal, aparat negara masih terus mengincar sosok yang mendukung kudeta.

”Penangkapan orang-orang prokudeta belum berakhir. Terus terjadi,” kata Sya'roni. Aksi represif pemerintah berdampak pada aktivitas masyarakat. Pasukan keamanan ada di mana-mana.

Di tempat-tempat wisata, masjid, stasiun metro, halte bus, pasar, dan sejumlah spot strategis. Terkesan berlebihan, memang. Tapi, itu adalah bagian dari upaya pemerintah Turki agar tidak kecolongan lagi.

Meski begitu, toh tetap saja kecolongan. Kamis (6/10) terjadi ledakan lagi. Kali ini di dekat pos polisi di Istanbul. Dekat dengan bandara.

Meski tidak ada korban jiwa, ledakan yang dipicu bom yang dipasang di sepeda motor itu kembali menebarkan trauma kepada warga.

KBRI di Ankara mengimbau warga Indonesia untuk menghindari tempat-tempat umum yang berpotensi menjadi sasaran serangan teroris. WNI di Turki sekitar 700-an. Kebanyakan adalah mahasiwa.

Mereka diminta untuk tidak ikut dalam aksi-aksi berbau politik. Misalnya demonstrasi. Arus kunjungan WNI ke Turki memang meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Utamanya terkait dengan lawatan wisata.

Yang juga menjadi tren belakangan adalah paket wisata religi. Turki menjadi sasaran perjalanan wisata dalam rangkaian umrah.

Banyak biro travel umrah yang memasukkan Turki sebagai bagian dari paket yang ditawarkan kepada jamaah. Burak, tour guide di Istanbul, mengaku sering melayani wisatawan dari Indonesia.

Tujuan favorit adalah Blue Mosque, Hagia Sophia, dan Grand Bazaar. Jawa Pos sempat bertemu dengan beberapa jamaah haji plus di Grand Bazaar.

Mereka mampir ke Istanbul sebagai bagian dari rute perjalanan kembali ke tanah air. ”Kami di sini cuma dua hari, setelah itu pulang,” ujar seorang jamaah dari Bekasi.

Kudeta 15 Juli lalu bukan kali pertama dalam sejarah Turki. Meski begitu, aksi makar tersebut menjadi pukulan telak bagi pemerintah.

Sampai-sampai, untuk mengenang tragedi berdarah itu, pemerintah mengganti nama Jembatan Bosphorus menjadi Jembatan Martir 15 Juli. Nama baru tersebut merujuk hari terjadinya kudeta.

Saat itu tentara pemberontak memblokade jembatan pertama yang menghubungkan Istanbul Asia dan Istanbul Eropa tersebut. Namun, mereka mendapatkan perlawanan dari rakyat.

Korban berjatuhan. Mereka menjadi martir demi melawan aksi kudeta. Nah, perlawanan rakyat itulah yang kemudian diabadikan sebagai nama baru jembatan.

Ada tiga jembatan di Selat Bosphorus. Sebelum kudeta, jembatan pertama hanya disebut Jembatan Bosphorus. Tidak ada nama lain. Jembatan kedua diberi nama Fatih Sultan Mehmet.

Lalu, jembatan ketiga diberi titel Yavuz Sultan Selim. Tidak banyak kalangan yang mengetahui perubahan nama Jembatan Bosphorus. Meski begitu, menurut Sya'roni, ada alasan khusus di balik perubahan nama tersebut.

”Terkesan diam-diam. Tapi, sebenarnya ada tujuan dari perubahan nama itu. Yakni, mengingatkan rakyat akan kudeta yang gagal itu,” kata kandidat doktor perbandingan politik di Marmara University tersebut. (*/sep/JPG)[]Sumber:jawapos.com