BANDA ACEH – Yusra Habib Abdul Gani akan mengupas Strategi Belanda Mengepung Aceh 1873-1945 dalam diskusi yang dilaksanakan Prodi Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab UIN Ar Raniry, Banda Aceh, Selasa, 26 Juli 2016. Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Fakultas Adab UIN Ar Raniry ini juga bakal diisi oleh Haikal Afifa dan Irwan Adaby, MA.
Ketua Prodi SKI, Merduati, MHum, dalam siaran persnya mengatakan acara ini bertujuan untuk mengkaji lebih mendalam sejarah Aceh. “Khususnya sejak kedatangan Belanda ke Aceh pada tahun 1873,” katanya.
Merduati mengatakan kajian sejarah Aceh periode Belanda yang lebih didominasi oleh perang dan politik, perlu dibahas secara mendalam di dunia akademik. Hal ini untuk menemukan persepsi-persepsi lainnya tentang sejarah Aceh.
Menurutnya selama ini masyarakat Aceh sangat terikat dengan ingatan masa lalunya. Namun ingatan tersebut relatif dalam perspektif yang seragam.
Kita masih emosional terhadap historiografi Aceh yang ditulis oleh kalangan luar meski berlandaskan pada bukti-bukti otentik, katanya.
Dia juga mengatakan isu sejarah Aceh masih sangat sensitif dengan kondisi kekinian. Ini disebabkan karena kajian sejarah di dalam kampus merupakan salah satu opsi untuk menempatkan sejarah pada posisi yang seharusnya, “sebagaimana tujuan ilmu sejarah itu sendiri.”
Sementara itu, Direktur Bandar Publishing, Mukhlisuddin Ilyas, M.Pd, mengatakan pentingnya kajian sejarah itu berlangsung di kampus untuk membiasakan mahasiswa berpikir kesejarahan, berdasarkan norma-norma ilmu sejarah.
“Jika hal ini terjadi, maka akan berkonstribusi besar terhadap khazanah historiografi Aceh dan akan memudahkan masyarakat Aceh untuk mengetahui transformasi indentitas komunitas mereka,” kata Mukhlisuddin.
Dia mengatakan Bandar Publishing sengaja mensponsori diskusi tersebut, karena sebagai bagian komitmennya untuk mendorong semakin maraknya kajian tentang sejarah Aceh.
“Kami berkeyakinan bahwa kajian tentang Aceh masih sangat kurang. Oleh karena itu kegiatan-kegiatan seperti ini mudah-mudahan menjadi stimulus bagi kelompok-kelompok di Aceh untuk melakukan hal serupa,” kata Mukhlis.[](bna)




