Oleh Taufik Sentana*
Puisi dan karya sastra tulis sejenisnya memiliki ruang penghayatan publik tersendiri. Masyarakat mengapresiasi puisi dengan cara yang berbeda. Umumnya puisi dianggap sebagai wilayah yang sangat abstrak, inilah kesan yang lazim terhadap puisi, seperti kopi yang pahit.
Kebanyakan penyair membebaskan pembacanya saat puisi itu dinikmati. Para pelajar dan mahasiswa serta komunitas berbasis sastra memiliki forum yang lebih luas dalam meresapi makna puisi. Dari potongan kalimat puisi yang digunakan sebagai pemanis undangan nikah hingga musikalisasi, festival, menjadi lirik lagu bahkan novel yang kemudian diadaptasi ke layar kaca. Demikianlah puisi berubah wujud dari sekadar kata-kata “ghaib” menjadi lembaran realitas baru, walau pada mulanya puisi disepakati sebagai karya fiksi.
Bagaimana menikmati puisi?
Sepertinya tidak diperlukan buku ala “How to“
untuk menikmati puisi. Mungkin yang paling mengemuka saat seseorang dihadapkan pada puisi adalah cita rasa pengalaman si pembaca sendiri dan faktor genikal atau keberbakatan (misal, si pembaca memang bukan tipikal linguistik atau cerdas kata) sehingga bait-bait puisi hanyalah kebuntuan makna, tak dapat ia hubungkan kaitan rima antarkata atau sentuhan warna estetis dari rangkaian kalimat puitis dari penyair seperti Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sapardi, Emha atau Afrizal Malna dan Rendra.
Pengalaman yang dominan selazimnya muncul dari interaksi di rumah dan sekolah. Melalui dua tempat istimewa inilah pengalaman seseorang terhadap puisi dan karya sastra lainnya atau sikap literal (budaya baca) terbangun dan kemudian terpatri sebagai kebiasaan. Bila keduanya tidak memberikan ruang yang sewajarnya maka dibutuhkan faktor lain agar ia tersentuh oleh puisi.
Sentuhan itu, kata sebagian orang adalah saat seseorang jatuh cinta. Kedalaman puisi akan menyentuhnya bahkan dengan puisi yang paling sederhana:
“Aku adalah rinai hujan saat kita berjauhan“.
Benar kiranya kata plato, seseorang mendadak penyair ketika cinta menyergapnya. Jadi, paling minimal, saat dihadapkan pada puisi, saat Anda ingin menikmati puisi, anggaplah itu pembangkit kisah terbaik dalam hidup Anda, yang dengan puisi tadi, Anda tak perlu berbagi dunia, biarlah menyala romantisme lama itu.
Seperti secangkir kopi
Secangkir kopi takkan sampai pada cita rasa bila kita tak menyeruputnya, tak meneguk, tak pula meminumnya sambil merasakan sensasi hangat dan pahit yang menyatu dengan manis, diiringi suasana pagi dibalut sinar lembut mentari.
Menikmati secangkir kopi bisa dilakukan siapa saja, bahkan sekarang banyak wanita yang gila kopi. Kopi tidak monopoli lelaki saja. Demikian pula puisi, ia layak dinikmati siapa saja, termasuk anak-anak (dalam syair kita bisa menanamkan nilai keberanian, kejujuran dan kreativitas).
Sekarang banyak media online yang menerbitkan puisi. Kita juga bisa langsung mengakses puisi para penyair yang kita kenal dengan beberapa sentuhan di HP. Memulai dari buku puisi yang ringan agaknya memudahkan, walau tidak semua puisi ringan tanpa makna di baliknya, seperti puisi Joko Pinurbo “Kau adalah mata, aku airmatamu” (kepada puisi)
Bila ingin menikmati puisi, cobalah dengan membacanya sepintas dari judulnya, atau dari bagian yang Anda suka. Lalu, rasakan pesan si penyair, apakah ia menyampaikannya langsung atau dengan kata kiasan? Bila itu memberatkan, nikmati saja rajutan kata, bentuk dan iramanya sambil membayangkan “apakah puisi ini layak untuk dibacakan kembali ke kekasih (istri)?”
Dan marilah kita ingat lagi bahwa ketika puisi telah berada di hadapan Anda, ia menjadi milik Anda, demikian kata sebagian penyair. Nikmatilah kebebasan itu dengan mengulasnya lewat dialog bersama teman dan lewat tulisan kecil atau menjadikannya sebagai hadiah.
Akhirnya, cobalah nikmati puisi orisinal penulis berikut ini seperti Anda menyeruput sajian kopi terbaik:
“Aku Ingin Menyapa Hujan“
Pagi pagi sebelum beranjak kerja
saat mentari mengintip sepi.
sore hari ketika pulang kerja
saat pengap menguap dari ubun ubun
malam hari sebelum tubuh rebah
saat rintik rintiknya menjadi kata pujian
kapanpun saat sesak memuncak
oleh aroma ladang yang tandus
kapan saja kecuali hujan yang kumaksud itu
tak menuntunmu ke esok pagi.
Meulaboh, Agustus 2018
*Taufik Sentana, guru dan penikmat seni-sastra. Sedang merampungkan antologi “Password Kebahagiaan”.






