BANDA ACEH – Provinsi Aceh memiliki ragam suku. Pun begitu dengan bahasa yang digunakan masing-masing penutur setiap suku yang terdapat di provinsi paling barat itu.
Setidaknya, ada 12 suku yang mendiami provinsi tersebut. Yaitu, Aceh, Aneuk Jamee, Alas, Batak Pak-Pak, Devayan, Gayo, Haloban, Kluet, Lekon, Singkil, Sigulai, dan Tamiang.
Lantas, adakah lingua franca yang menjadi bahasa pemersatu di Serambi Makkah? Menurut Dosen Bahasa Indonesia FKIP Unsyiah, Herman, RN., selain Bahasa Indonesia, tidak ada.
“Setiap suku di Aceh memakai bahasanya sendiri. Dan, jika ditanya adakah lingua franca sebagai bahasa pergaulan sehari-hari, tidak lain selain Bahasa Indonesia,” jelas Herman, kepada portalsatu.com/, belum lama ini.
Menurut Herman, bahasa ibu hanya digunakan ketika seorang penutur berada di kalangannya sendiri. Saat penutur berada di lingkungan yang jauh lebih berwarna, ia kembali menggunakan bahasa konvensional, yakni bahasa Indonesia.
Penggunaan bahasa konvensional di dalam kehidupan sehari-hari sudah berlaku di Aceh jauh sebelum Indonesia merdeka. Tidak jauh berbeda dengan perkembangan penggunaan bahasa Indonesia di nusantara pada umumnya.
Seperti diketahui, cikal bakal dialek Indonesia adalah bahasa Melayu. Bahasa Melayu merupakan bahasa mayoritas di Asia Tenggara yang menjadi bahasa perantara saat orang-orang di nusantara melakukan komunikasi antarsuku atau dengan bangsa lain.
Berbagai dokumen masa lalu pun ditulis atau diketik dengan bahasa Melayu, baik dalam huruf jawi, maupun alfabet. Berbagai magnum opus para sastrawan masa lalu pun banyak ditemukan ditulis dalam bahasa Melayu.
Naskah Akhb?r al-Kar?m, mengungkap, awalnya bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa perantara di dalam dunia perniagaan, tetapi tidak begitu berkembang. Ini karena pasaran perdagangan di Aceh belum meluas selama periode praislamisasi.
Setelah Islam berkembang di Aceh, para pedagangnya diaspora hingga ke pelabuhan-pelabuhan antarbangsa. Kondisi ini berpengaruh besar pada bidang kesusasteraan kala itu.
Taraf penggunaan bahasa Melayu pun meningkat jadi alat pengucapan intelektual sekaligus lingua franca antara para cendekiawan di Aceh. Pada masa itu, bahasa Melayu diperkenalkan melalui abjad Arab.
Kerajaan Pasai dan Aceh Darussalam telah menggunakan bahasa Melayu untuk kepentingan islamisasi. Juga menjadi bahasa resmi atau bahasa ilmu pengetahuan saat itu.
Karena itu, kebanyakan manuskrip di Aceh ditulis dalam bahasa Melayu, kecuali hikayat. Dalam perkembangannya, sebagai daerah yang menabalkan diri bagian dari Indonesia, Aceh terus mengikuti setiap perubahan kaidah kebahasaan yang ada di Indonesia.
Berbeda dengan Herman, menurut penulis buku Bahasa Indatu Nenek Moyang Ureueng Aceh, Hamdani Mulya, bahasa yang dominan digunakan oleh penutur di Aceh adalah dialek Pasai dan Peusangan. Kedua dialek ini berasal dari Aceh bagian utara.
“Bahasa Aceh yang lebih luwes, atau bahasa perantara yang sering digunakan dalam tatanan masyarakat Aceh dalam berkomunikasi adalah dialek Pasai dan Peusangan,” jelas Hamdani, kepada portalsatu.com/, Rabu, 18 September 2019, malam.
Alasannya, kedua dialek tersebut merupakan bahasa standar yang sering digunakan di dalam berbagai komunikasi formal. Baik oleh lembaga adat maupun lembaga resmi.
“Seperti pelajaran muatan lokal (mulok) yang pernah diterapkan di jenjang sekolah dasar. Pada dakwah atau pidato, saat 'intat linto' (tradisi mengantar mempelai pria), bahkan lagu-lagu Aceh pun menggunakan ragam dialek ini,” ujarnya.
Dialek Pasai sering dijumpai digunakan oleh penutur di wilayah Panton Labu sebelah timur sampai Krueng Geukueh sebelah barat Aceh Utara. Sementara dialek Peusangan, antara Krueng Geukueh sampai perbatasan Bireuen dengan Pidie Jaya.
Hamdani merujuk pada dua buku yang menjadi referensi dominan dalam bidang kebahasaan di Aceh. Yakni, buku Meuruno Bahasa Aceh karangan Budiman Sulaiman dan Tata Bahasa Aceh karya Dr. Wildan.
“Karena itu, perlu ditulis juga buku oleh penulis yang berasal dari Aceh bagian barat selatan, untuk memperkaya khazanah bahasa Aceh,” harapnya.
Terlepas dari itu, bahasa Indonesia lebih sering digunakan oleh penutur di Aceh sebelum mengidentifikasi asal lawan bicaranya. Hal ini mempertegas kembali posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu.[]







