Setiap suku primitif memiliki tarian ritual, sebagai bentuk penyembahan kepada ruh. Begitulah yang diyakini oleh manusia modern.

Suku primitif, menurut manusia modern, adalah sekelompok manusia yang dikalahkan oleh kelompok lain yang memakai teknologi modern.

Bagaimana dengan Mante?

Tentang keberadaan Mante, ada pendapat dari dua kelompok orang.

Pertama, kelompok yang percaya berdasarkan cerita rakyat atau buku buku, bahwasanya Mante itu salah satu suku di Aceh.

Kedua, kelompok yang membantahnya dengan alasan, Mante itu tidak pernah ada, hanya cerita bualan Belanda. Belanda mengarang cerita itu supaya terlihat hebat di mata orang Eropa lainnya yang sama sama penjajah.

Aku sendiri tidak berada di dalam kedua kelompok itu. Maka, aku ini di kelompok ketiga. Lebih tepatnya, tentang penilaian terhadap keberadaan Mante, aku membuat kelompok ketiga, yakni kelompok yang mempercayai bahwasanya Mante itu ada, tapi bukan sebuah suku manusia seperti dalam cerita rakyat atau buku buku itu, tetapi Mante itu hanyalah sebuah spesies yayang tidak memiliki peradaban. 

Disebutkan, Mante itu tidak membuat rumah dan tidak mengolah makanan. Mereka tidur di goa dan cabang kayu. Mereka memakan ikan mentah dan buah-buahan langsung dari alam, yakni tidak bercocok tanam. Mereka tidak memiliki peradaban.

Mante hanyalah spesies, dan bukan makhluk mitos dan bukan makhluk halus.

Tentang mereka tidak pernah ditemukan, itu hanyalah karena secara alamiah mereka memiliki tenaga yang kuat disebabkan harus hidup dengan melawan cuaca.

Mahkluk semacam Mante, memiliki penglihatan dan pendengaran yang tajam, mampu berlari dengan cepat sehingga mereka tahu keberadaan manusia dalam radius tertentu, dan mampu menghindarinya secara alamiah.

Bagaimana tarian Mante?

Aku belum pernah mendengar ada orang yang mengatakan bahwasanya Mante itu memiliki tarian ritual seperti suku primitif dalam bangsa manusia. 

Bersorak-sorak setelah berhasil memperebutkan makanan tidak bisa disebut tarian. Cerita bahwasanya Mante suka gelang atau anting dan sebagainya, itu hanyalah ketertarikan atau rasa penasaran alamiah berdasarkan insting, seperti kera atau monyet yang memperhatikan dengan seksama setiap benda baru yang ditemuinya.

Dari sekumpulan cerita turun temurun, tidak ada sumber yang menyebutkan bahwasanya Mante punya tarian, sebuah khas suku primitif dari bangsa manusia.

Terlepas dari adanya pihak yang percaya dan ada yang tidak percaya keberadaan Mante, hal itu akan diketahui kepastiannya setelah pemerintah dan perguruan tinggi menjelajah dan menelitinya.

Pemerintah dan perguruan tinggi memang perlu membuat tim khusus untuk menjelajah dan meneliti tentang keberadaan Mante. Itu penting.

Bukan saja di Aceh, tapi di seluruh Sumatera harus dijelajah dan diteliti. Karena, pada tahun 2013, diberitakan, ada penjaga hutan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Kabupaten Lampung, Timur, Provinsi Lampung, Sumatra, mengaku pernah melihat makhluk seperti manusia yang berukuran kecil. Uhang Pandak atau orang pendek. 

Dengan keadaan ini, maka perlu diteliti juga, apakah Mante di Aceh dengan Uhang Pandak di Lampung adalah kelompok yang sama yang nomaden sepanjang bukit barisan di Sumatra, ataukah kelompok yang berbeda.

Kita tunggu hasil penyelidikan pihak berkuasa. Sebelum itu, perlu imbauan untuk menyelamatkan Mante.[]