Lidah ombak menjilat bangunan ini berulang kali. Sesekali laut mengirimkan serombongan ikan ke bawah “tapak kakinya”. Tak jarang, kepiting-kepiting kecil bersembunyi di bawah pasir di sekitar bangunan yang sudah ditutupi lumut itu. Memiliki satu kamar dengan luas sekitar 2-3 meter, inilah pos patroli Jepang saat berada di Aceh tempo dulu. Bangunan tersebut berada di kawasan Pantai Ujong Kareung, Aceh Besar. 

Sebagian warga Aceh menyebut bangunan ini dengan Kurok-kurok. Di kawasan Ujong Kareung ini terdapat sedikitnya lima Kurok-kurok. Empat diantaranya berada persis di bibir pantai. Sementara sisanya “tersesat” di lahan milik warga setempat, seakan bersembunyi di balik ilalang.

Kurok-kurok merupakan bangunan yang diperuntukkan sebagai pos patroli tentara Jepang saat perang Pasifik berkecamuk di Asia Tenggara. Letaknya tepat menghadap Selat Malaka. Pada masanya, Kurok-kurok diduga berfungsi sebagai bangunan tempat prajurit memerhatikan hilir mudiknya kapal-kapal dagang dan kapal-kapal perang di jalur paling ramai di Asia itu.

Namun, seiring perkembangan zaman, Kurok-Kurok menjadi benda mati yang diisi oleh sampah manusia. Amatan wartawan di lokasi, bangunan peninggalan sejarah ini sama sekali tidak mendapat perhatian serius dari pemerintah setempat. Bahkan tidak ada plang yang menandakan bangunan ini merupakan salah satu cagar budaya, yang patut dilindungi dari tangan-tangan jahil manusia. Padahal, terpaut satu atau dua kilometer dari sana terdapat monumen pengingat bahwa Jepang pernah mendarat di Aceh. Sebuah destinasi wisata sejarah yang terabaikan.[]