Sabtu, Juli 13, 2024

Jabatan Pj Bupati Aceh...

ACEH UTARA - Masa jabatan Penjabat Bupati Aceh Utara, Dr. Mahyuzar, genap satu...

Panwaslih Aceh Instruksikan Buka...

BANDA ACEH - Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Aceh menginstruksikan Panwaslih Kabupaten/Kota segera membuka...

KAMMI Sebut Perlu Forum...

BANDA ACEH - Pengurus Daerah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Banda Aceh...

Atlet Popda Gayo Lues...

BLANGKEJEREN - Pertandingan POPDA ACEH ke-XVII yang sedang berlangsung saat ini menjadi perhatian...
BerandaNewsMeninggalkan Mahasiswa, Gerakan...

Meninggalkan Mahasiswa, Gerakan ALA Dinilai Eklusif

BANDA ACEH – Ketua Ikatan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Aceh Tengah, Yusuf Sabri Rahman, mengungkap kekecewaannya karena tidak dilibatkan dalam gerakan bersama melahirkan Provinsi Aceh Leuseur Antara (ALA). Dia menganggap kekecewaannya tersebut tidak berlebihan karena sebagai instrumen dari perjuangan ALA dan merupakan perwakilan mahasiswa Banda Aceh yang berasal dari Aceh Tengah.

“Harusnya gerakan perjuangan melahirkan provinsi ALA dijadikan gerakan bersama dengan melibatkan seluruh elemen pergerakan, tentunya elemen mahasiswa menjadi daya dorong dan nilai tawar dalam setiap pergerakan ALA,” ujar Yusuf Sabri Rahman dalam siaran persnya kepada portalsatu.com di Banda Aceh, Sabtu, 10 Oktober 2015. 

Dia mengatakan mahasiswa Aceh Tengah yang ada di Banda Aceh sudah membuktikan diri tanpa komando dan tanpa arahan dari tokoh-tokoh ALA. Menurutnya mahasiswa Gayo sudah sangat tergerak dalam meneriakkan ALA di Banda Aceh. 

“Setidaknya kami sudah merasakan penderitaan batin yang selama ini kita derita bersama. Harusnya benih-benih perjuangan semacam ini terus dijaga semangat dan pergerakannya, jangan diabaikan,” ujarnya lagi.

Dia mengatakan banyak yang heran dengan gerakan pembentukan ALA. Apalagi para tokoh terkesan meninggalkan mahasiswa yang kemudian terlihat adanya sikap eklusif dalam perjuangan ALA.

“Jika sudah milik bersama, maka pertemuan penting ALA juga harusnya dilakukan di Banda Aceh. Agar terkesan para pejuang ALA itu tidak pernah takut terhadap pemerintahan Aceh dan sekutunya,” katanya.

Yusuf mengatakan dengan dilaksanakannya pertemua ALA di Banda Aceh akan membuat gerakan ini lebih berwarna. Selain itu, jika pertemuan tingkat tinggi ALA juga digelar di ibukota provinsi maka akan menunjukkan nilai tawar lebih. “Tidak harus selalu di Medan,” katanya.

Dia mengatakan tokoh-tokoh ALA belum terlambat untuk dapat menyatukan semua elemen yang mau bergerak, terlebih mahasiswa Gayo Banda Aceh yang selama ini sudah bergerak secara mandiri. Yusuf justru khawatir gerakan mahasiswa akan bubar jika tidak dirawat dengan baik. 

“Gerakan Mandiri Mahasiswa Gayo Banda Aceh terjadi karena kami sangat dekat dengan lingkaran kekuasaan, sehingga kami merasakan betul kebijakan yang timpang. ALA itu harus lahir dan bagaimana Gayo juga harus terus dijaga eksistensi dalam setiap gerakan yang ada,” katanya.

Dia mengatakan banyak isu yang menyebutkan ALA merupakan gerakan penakut yang hanya berani memperlihatkan wujudnya di Kota Medan. Hal ini membuat Yusuf berontak dan tidak menerima harkat dan martabat perjuangan ALA direndahkan. 

“Maka KP3 ALA harus mampu menjawabnya. KP3 ALA harus mampu menginventarisir masalah yang ada, jangan terkesan hanya dapat membuat acara pertemuan yang sifatnya seremonial semata. Ini penting saya sampaikan karena berkaca kepada pertemuan-pertemuan sebelumnya agar tidak terkesan mubazir semua usaha dan pemikiran yang kita korbankan bersama,” katanya.

Dia mengingatkan tentang sinyal lahirnya provinsi ALA pada 2016. Menurutnya hal ini merupakan momentum yang bagus untuk menciptakan gerakan bersama. 

“Kekecewaan teman-teman jangan dianggap angin lalu, bisa jadi gerakan ALA akan terbelah jika tidak ada yang mengalah. KP3 ALA harus dewasa menyikapinya,” katanya.[](bna)

Baca juga: