MAJELIS Seniman Aceh (MaSA) resmi dibentuk pada Jumat, 9 Februari 2018, di Balee Rafli Kande, Banda Aceh. Hal itu setelah beberapa kali pertemuan di beberapa tempat dalam beberapa bulan terakhir.
Para hadirin menunjuk Ayah Panton sebagai ketua. Hadirin juga membentuk majelis tinggi atau majelis syura yang disebut Akademi Kutaraja yang berisikan para seniman dan budayawan cukup pengalaman di bidang kesenian serta kebudayaan. Tugas majelis tinggi ini untuk memilih ketua MaSA ke depan. Karena ini pertama kali, maka ketua MaSA ditunjuk oleh forum.
Nama-nama anggota Akademi Kutaraja yang diusulkan oleh forum untuk kemudian di masa datang agar memilih ketua MaSA diantaranya budayawan Barlian AW, Nab Bahany As, senator Rafly Kande, akademisi Prof Dr Misri, Yulsafli MA, Dr Harun Al-Rasyid, seniman dan tokoh pers senior Sjamsul Kahar, Helmi Hass, serta satu dari unsur perempuan yang akan dimasukkan dalam waktu dekat ini.
Ada beberapa orang rekan yang mempertanyakan, apakah pendirian MaSA tidak akan berbenturan atau tumpang tindih dengan lembaga yang sudah ada, seperti DKA (Dewan Kesenian Aceh), atau apakah itu akan menjadi lembaga tandingan?
Tentang pertanyaan di atas, saya sarankan bagi rekan-rekan, pertanyaan tersebut tidak perlu dijawab sama sekali. Diabaikan saja. Dan, di sekian banyak rapat pembentukan MaSA, lembaga yang sudah ada tidak disebut-sebut, untuk menghormati sesama seniman.
Hal itu disebabkan, kita menilai, MaSA itu sebuah organisasi persatuan (bagi yang bersedia bergabung), berbeda dengan organisasi yang sudah ada. MaSA itu sama sekali tidak punya hubungan dengan lembaga yang sudah ada seperti DKA, yang bermakna, tidak mungkin itu menjadi tumpang tindih atau menjadi lembaga tandingan apabila tidak ada hubungannya.
Sebagai contoh, dalam balap-balapan, tidak mungkin pacuan kuda (lomba laju kendaraan dari jenis hewan tunggangan) tumpang tindih dengan (misalnya) World Rally Championship atau MotorGP (lomba laju kendaraan jenis mesin dan logam).
Maka, pacuan kuda tetap ada jika masih ada kuda dan jika ada orang yang suka membuatnya, itu tidak akan ada lagi ketika otoritas dan masyarakat tidak membuatnya lagi. Dan, MotorGP atau World Rally Championshop tetap ada jika ada yang suka dan ada yang sanggup membuatnya karena mahal dan itu ada karena ada masyarakat yang suka dan sanggup monontonnya langsung, atau setidaknya di layar televisi.
Sebagai orang yang sudah bertahun-tahun terlibat dalam organisasi seni dan kebudayaan, saya menilai MaSA adalah solusi terhadap memajukan seni dan membuat keberadaan seniman diakui. Apabila ada satu dua orang yang bicara tentangnya dengan nada kritis, itu sama-sama kita tahu bahwa negara ini menganut sistem demokrasi yang penduduknya memiliki hak kebebasan berpendapat.
Yang perlu diketahui bahwasanya, kebebasan berpendapat itu hak setiap warga negara yang berarti bahwa setiap menggunakan hak kebebasan berpendapat itu juga harus tetap menjaga hak dan kebebasan orang lain supaya dapat selamat dunia dan akhirat.
Kita juga memahami bahwa sebelum ini seniman ada beberapa kelompok yang tidak saling mendukung. Dan, MaSA, sama sekali tidak menyebut-nyebut perbedaan itu. MaSA hanya menyebut persatuan dan masa depan. MaSA menganggap semua perselisihan pendapat telah menjadi masa lalu. Kita hanya bicara hari ini, kita bicara masa depan. Masa depan seniman Aceh.
Banda Aceh, 11 Februari 2018
Penulis: Thayeb Loh Angen, Satu dari beberapa orang inisiator, Juru komunikasi organisasi Majelis Seniman Aceh (MaSA).





