ACEH BARAT – Nurdin, warga Desa Cot Jurumudi, Kecamatan Arongan Lambalek, Aceh Barat, kehilangan fungsi otot atau paralisis sejak empat tahun lalu. Pria berumur 44  tahun itu lebih banyak terbaring di tempat tidurnya. 

Nurdin tidak bisa lagi mengemban tanggung jawab sebagai kepala keluarga sejak menderita lumpuh. Dia menggantungkan diri kepada istrinya, Sakyan, yang mencari nafkah dengan cara bertani, untuk bertahan hidup.

Beban terasa kian sarat, mengingat ketiga anak mereka masih bersekolah. Harapan mengantar ketiga anaknya untuk meraih cita-cita harus diredam, kendati semangat untuk bangkit melawan sakit demi melihat anak-anaknya sukses masih ada di benak Nurdin.

Nurdin sudah menerima bantuan kursi roda dari pemerintah. Keluarganya berharap mendapatkan bantuan berupa pamper, minyak zaitun, dan kebutuhan lainnya.

“Alangkah lebih baik, jika bapak mendapatkan perawatan di rumah sakit. Terakhir Pak Nurdin dirawat di rumah sakit tiga tahun lalu, kini terkendala dengan biaya,” kata pemuda kecamatan itu, Kasman, mengulang ucapan Sakyan, dalam keterangan diterima portalsatu.com/, Senin, 19 Agustus 2019.

Kabar mengenai Nurdin sempat disebar ke media sosial. Unggahan-unggahan yang beredar itu pun disambut oleh dinas terkait.

Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Barat beserta instansi terkait mendatangi kediaman Nurdin, Senin, 19 Agustus 2019. Rencananya Nurdin akan dirujuk ke rumah sakit pada sore harinya.

Kepala Dinas Kesehatan Aceh Barat, Syarifah Junaidah, menampik jika Nurdin tidak diperhatikan selama ini. Pihak layanan kesehatan setempat memberi pengobatan secara berkala setiap bulannya kepada Nurdin. Keluarga Nurdin juga termasuk penerima Program Keluarga Harapan (PKH). 

Menurut Syarifah, penyakit Nurdin semakin parah karena pola perawatan dari pihak keluarga yang tidak selaras.

“Asupan gizi juga kurang. Itu bukan karena dari pihak kita, pihak kita juga sudah membantu, ada memberi makanan tambahan. Cuma, faktor ketidaktahuan keluarga dalam merawat,” jelas Syarifah kepada portalsatu.com/, Senin siang.

Syarifah menyarankan kepada keluarga agar memberi asupan berupa bubur untuk Nurdin. Bukan nasi yang dikomsumsi orang pada umumnya.

“Bubur susu, bubur ayam. Pagi-pagi kasih teh hangat, dimasukkan roti, saya bilang, supaya dia segar. Terus dibersihkan setiap hari,” tuturnya.

“Kita juga memantau melalui Puskesmas sebagai garda terdepan. Dalam arti tidak ditelantarkan. Tadi bantuan pamper dan tambahan makan juga sudah diberikan. Nanti sore, kalau tidak ada halangan akan dirujuk ke rumah sakit,” ujar Syarifah.[]