Karya: Taufik Sentana*

Bulan hanya perumpaan
titipan keindahan
seperti malam yang disembunyikan.

Dengan edarannya
kita belajar hitungan.
Cahyanya sejuk-sederhana
menimpa daunan
pada malam kesahduan.

Lampu lampu kota
dan pijar pijar hiburan malam
membuat kita lupa,
kita lupa pada rupa cahya bulan.
Padahal kita membutuhkan bulan,
pergerakan angin, ombak
dan pasang surut-lautan
oleh Karena gerak bulan.

Nabi kita membelah bulan,
itulah kebenaran.
Sejak dulu orang orang ingin
sampai kesana.
Sebagian percaya disana
ada ladang kehidupan,
namun tugas kita hanyalah
memakmurkan bumi,
Nabi nabipun diutus  
di bumi.

Kehidupan bulan hanya kiasan,
dari cara kita yang bodoh
menyelesaikan kehidupan bumi.

Dari bulan kita belajar hitungan,
pergerakan waktu
atau putaran kejadian,
bahwa gelap dan terang bersisian
kitapun belajar bagaimana menangkap cahaya, tanpa harus sampai ke bulan.[]

*Peminat sastra sufistik.