Oleh: T.A. Sakti  

Dewasa ini daerah Aceh masih termiskin di Sumatera (Serambi Indonesia, Kamis, 17 Januari 2019 halaman 1). Walaupun sedang terkepung dengan belenggu kemiskinan, Pemerintah Aceh terus berkonsentrasi pada peningkatan sumber daya manusia (Serambi: Salam Serambi, “Aceh Mengembangkan SDM  Dalam Belenggu Kemiskinan, 4 Mei 2019, halaman Opini). 

Hasil beberapa survei memang menunjukkan, bahwa Aceh termasuk daerah yang miskin. Banyak faktor yang menyebabkan rakyat Aceh menjadi miskin. Salah satunya konflik politik yang berkepanjangan sebelum ditandatangani MoU Helsinki tahun 2005. 

Akibat konflik, berbagai segi kehidupan masyarakat Aceh menjadi hancur lebur. Selain konflik, sikap hidup dan perilaku kehidupan masyarakat juga amat berperan dalam melahirkan kemiskinan.

Pada kesempatan ini, kami akan menyajikan sudut pandang budaya tentang kemiskinan Aceh, yaitu mengenai sikap dan perilaku manusia Aceh sendiri. 

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh – terutama tempo dulu – sejak kanak-kanak sudah mengenal sejumlah ungkapan yang terkait bidang perekonomian. Pernyataan sikap orang Aceh ini berlaku, baik dalam memproduksi materi/barang maupun dalam mengelola harta kekayaan.

Beberapa kata bahasa Aceh yang seutuhnya dirangkai kedalam  hadih maja(peribahasa) itu antara lain: jeumot (rajin), beu-o (malas),  beu-o siiet(amat malas), kriet (pelit), haloih(sangat hati-hati), himat (hemat),  murah(suka memberi), rampuih(boros), heumpah-hampeh(royal). 

Secara kasat mata, dalam pengamalan perilaku-perilaku tersebut di ataslah yang menjadi modal dasar apakah seseorang atau sebuah keluarga akan menjadi kaya atau miskin dan berkehidupan sederhana(berkecukupan). Faktor takdir Tuhan memang sudah terjalin ke dalamnya.

Dalam mengenali latar-belakang seseorang yang menjadi kaya, miskin atau  hidup berkecukupan, kita dapat melacak jejak dari berbagai  perilaku  hidup yang dipraktekkan mereka. Seseorang yang sudah kaya misalnya, ternyata ia mengamalkan sikap hidup yang jeumot(rajin) dalam bekerja sehingga banyak menghasilkan uang atau harta. 

Di samping rajin ia pula memiliki sifat kriet atau haloih dalam hal pengeluaran uang yang telah diperolehnya. Akibatnya, hartanya semakin lama terus bertambah. Bagi yang hidup di kampung, setiap tahun mereka dapat membeli kebun atau sawah.  Mereka yang tinggal di kota, perusahaan atau toko  dan ruko terus bertambah.

Dalam budaya Aceh, orang rajin (jeumot)  memang  diberi nilai positif. Gelar mereka awak phui tuleueng(orang bertulang ringan). Meunye keubuet jikap(jika bekerja amat gigih). Bak ureueng jeumot, on trieng jeuet keu peng (Bagi orang rajin, daun bambu kering pun   bisa jadi uang).

Ungkapan lain menyebutkan:”meunye tatem  ta usaha, adak han kaya taduek seunang(jika mau berusaha, kalau pun tak kaya hidup  senang). Meunyo hana tausaha, pane atra rhot dimanyang(jika tidak diusahakan, tak ada harta jatuh dari atas).

Di Rumoh Teungoh, Gampong Ujong Blang, Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya (Aceh), saya  (T.A.Sakti) mendengar dari Abu Tabib Wen sebuah madah kehidupan ketika saya setahun  berobat patah tulang kaki di sana dalam tahun 80-an(April 1986 s/d  April 1987). 

Bunyinya:”Raseuki ngon tagagah, tuah ngon tamita. Tuah meubagi-bagi, raseuki meujeumba-jeumba! (Rezeki diperoleh dengan kerja keras, nasib mujur harus dicari. Nasib baik terbagi-bagi, rezeki kadar masing-masing menurut usaha). 

Endatu (nenek moyang) orang Aceh juga meninggalkan amanat yang mendorong orang agar mecari harta kekayaan. Sebab, orang kaya lebih terhormat, lebih mulia dibandingkan orang miskin. 

Ureueng kaya mulia bak wareh, ureueng gasien meukuwien lam tapeh (orang kaya dimuliakan oleh saudaranya, orang miskin dibiarkan dalam sabut kelapa atau tak ada yang peduli).  Hanya satu cara orang bisa menjadi kaya adalah bersifat rajin berusaha. 

 Salah satu hadih maja yang paling ekstrim dalam menghargai sifat rajin berbunyi: “Tukok jok tukok-u, nabuet na bu”(pelepah enau pelepah kelapa, baru dapat makan setelah bekerja). Sewaktu saya (T.A. Sakti) kecil, pepatah ini pernah dipraktekkan  dengan penuh disiplin oleh sebuah keluarga yang sepanjang hidup mereka terus bergiat dalam bidang dagang.

Setiap orang yang datang padanya, termasuk tamu anak-anak, wajib kerja terlebih dahulu sebelum mendapat sesuatu(terutama makan). Sewaktu  saya (T.A. Sakti)   dewasa sekarang, ternyata orang-orang yang menerima disiplin “Tukok jok tukok-u, nabuet na bu” dari saudagar tua itu, yaitu bekerja dalam pengawasan beliau ternyata  semuanya menjadi orang-orang kaya(Aceh: toke). Mereka pun tetap menjalani sikap hidup yang penuh disiplin itu sampai sekarang.

 Menyimak begitu positifnya penilaian terhadap perilaku rajin dalam  budaya Aceh tempo dulu, kini kita bertanya-tanya;  apakah hal  itu  sudah berubah?. Dewasa ini para pekerja asal Aceh dianggap ‘malas’ dan dipandang sebelah mata.
Para pimpinan proyek (pimpro) lebih senang menerima  para pekerja asal luar Aceh dibandingkan pekerja lokal. Akibat  tindakan demikian pengangguran pun semakin banyak, maka  bertambahlah angka kemiskinan di Aceh. Seharusnya hal ini perlu diberdayakan dan dipikirkan kembali oleh para elite Aceh. Toh karakter orang bisa diubah dengan ‘cemeti’ yang manusiawi!.

Bom waktu
Hidup bermalas-malasan juga dicerca dalam budaya Aceh. Bak sibeu-o uteuen luah, bak simalaih raya dawa!(Gara-gara  si pemilik kebun malas membersihkan hutan pun semakin luas, kemalasan si pemalas selalu  ditutupi dengan banyak alasan).  

Sebenarnya  sifat malas itu selain  hidup  dalam pribadi seseorang, ia juga bisa berasal dari lingkungan dan kebijakan penguasa. Namun, walau dari mana sifat malas itu berasal, sikap hidup yang buruk itu tetap punya resiko akan memunculkan kemiskinan.

Sekarang, sikap hidup yang  dapat  mewarisi kemiskinan cukup merajalela di Aceh. Dengan kemajuan teknologi, berbagai alat elektronik yang menjadi bahan bersantai bagi kawula muda Aceh cukup tersedia dimana-mana. Siang-malam dapat kita saksikan anak-anak muda nongkrong berjam-jam di cafe-cafe atau warung kopi di kota-kota. 

Saat azan maghrib berkumandang pun, para pemuda Aceh masih berjubel di sana. Mushalla mini memang tersedia di cafe, namun yang sadar ibadat amat terbatas. Bagi yang bergadang malam, biasanya pada pagi besoknya mereka tidur pulas tanpa menghiraukan tugas-tugas  mereka. 

Bagi para mahasiswa, tentu mereka tidak masuk kuliah, khususnya dua matakuliah bagian pagi. Kasihan orangtua sang mahasiswa yang  tinggal nun jauh di kampung,  yang tidak mengetahui kelakuan  buruk  anak-anak  mereka saat kuliah di kota.

Inilah calon-calon generasi Aceh yang bakal menyambung periode kemiskinan Aceh di masa mendatang semakin panjang. Generasi beu-o siiet(amat malas) ini perlu dipangkas segera dengan kebijakan pihak berwenang.

”Kaum muda Aceh inilah sebagai  bom waktu bagi kehancuran generasi Aceh di masa depan!”, kata Prof. Dr. Farid Wajdi Ibrahim, MA  Rektor UIN Ar-Raniry dalam sambutan upacara Wisuda, 21 Maret 2016 yang lalu di Aula Gedung A. Hasjmy, Darussalam, Banda Aceh.

Saat mendengar  ucapan  itu, saya sendiri (T.A. Sakti) adalah  sebagai peserta Wisuda Magister dalam bidang studi Sejarah dan Tamaddun Islam.

Walaupun sifat kriet(pelit) dianggap rendah dalam kehidupan normal  masyarakat  Aceh, namun sikap hidup inilah yang biasa membawa seseorang atau sesebuah keluarga menjadi kaya. “Kriet culiep pade, soe nyang kriet rijang mate!”(pelit ujung padi, siapa yang pelit cepat mati!), begitu bunyi nyanyian anak-anak Aceh tempo dulu yang mengejek  teman-teman sepermainan mereka   yang  pelit.  

Memang  bukan mudah untuk menjadi orang kaya, walau setingkat kaya di kampung sekalipun.  Bagi yang berharap kaya, maka seluruh anggota keluarga, mulai dari suami, isteri dan anak-anak harus bertanggung jawab dan turut menanggung derita secara bersama-sama.

Kesan utama yang  paling nampak dalam keluarga ini adalah perilaku mereka yang rajin dalam setiap usaha yang menghasilkan uang dan harta benda. Keluarga ini juga amat rapat saringannya dalam mengeluarkan uang alias hemat. 

Demi menjadi kaya, ada  orangtua yang tega mengurangi porsi makan( nasi)  bagi anak-anaknya, apalagi semisal uang jajan sekolah, tentu nyaris diabaikan. Kasihan dengan nasib anak-anak dari keluarga  yang berperilaku pelit seperti ini. Anak-anak mereka menderita dan minder di sekolah, gara-gara orangtua yang kepingin cepat kaya.

Sampai saat ini kami  masih ingat, orang-orang yang kaya di kampung-kampung dan kecamatan-kecamatan di sekitar tempat kami. Kesemua orang kaya itu tetap dilabel sebagai orang pelit alias kriet lagee ek linot (pelit seperti sarang lebah kecil), atau kriet lagee ek linot lam bak Me(pelit seperti  taik  lebah kecil pada pohon asam Jawa) alias kriet meu’iet-‘iet(pelit, amat sukar keluar duit). 

“Orang halus”
Perilaku yang lebih dekat dengan kriet (pelit) adalah haloih(amat berhati-hati). Sifat rajin juga dimiliki orang ini, namun ia amat hati-hati dalam membelanjakan uang yang telah diperolehnya. 

Kalau boleh, uang yang telah didapatnya sama sekali jangan keluar lagi dari kantongnya. Namun demikian dia tidak sebakhil (istilah Melayu: kedekut) orang pelit. Orang-orang yang berprilaku  halus (haloih meuneu’en) ini  juga merupakan calon orang kaya nantinya. 

Dalam berkomunikasi lewat HP/telepon seluler di era canggih ini dengan mudah kita menjumpai contoh orang-orang yang berperilaku ‘orang halus’. Ia tetap melakukan ‘miscoll’ HP ketika memanggil teman. Akibatnya, teman dialah  yang harus meneleponnya .

Padahal  isi pembicaraan lewat  telepon genggam   itu pendek-pendek saja, misalnya:”ooo…kana(ooo… sudah ada!), tapi begitulah perangai  si “orang halus”, betul-betul  menjengkelkan!.

Bagi orang pelit dan haloih bisa saja tidak mau menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi karena dianggap hanya menghambur-hamburkan duit saja. Setelah anaknya tahu tulis-baca, setamat SLTP (bagi orang pelit) atau SLTA (bagi si haloih) misalnya, maka kegiatan sekolah segera digantikan dengan usaha mencari uang atau mempraktekkan hidup.

Orang  yang hidup bersikap himat(hemat) biasanya lebih sejahtera. Dia tetap membiayai  pendidikan anak-anak mereka baik ke sekolah atau ke Dayah(pesantren). Mereka sekolahkan  anak-anak mereka sampai setinggi-tingginya sesuai keinginan sang anak. 

Hanya saja, mereka terus menjalani sikap hermat-cermat dalam segenap lini kehidupan. Pepatah Melayu pun menyebutkan:” hemat pangkal kaya”. Biasanya, dalam keluarga inilah akan melahirkan generasi  orang-orang berwibawa, sukses dan berjaya.

Orang-orang yang berperilaku murah (mudah memberi) memiliki kekhasan tersendiri. Mereka memang tidak kaya, tetapi dimuliakan dan punya banyak kawan di mana-mana. Pada umumnya, orang ini berusia  lanjut, sebagai lawan  dari orang pelit yang biasanya berumur singkat seperti disindir dalam nyanyian anak-anak, bahwa soe nyang kriet rijang mate(siapa yang pelit cepat mati). 

Kehidupan  sang pemurah ini, sebenarnya disinari ajaran agama Islam yang mengajak pemeluknya agar berperilaku pemurah, jangan boros dan berlaku ‘pertengahan’(washathan) dalam setiap tindakan kehidupan. Dalam manuskrip  Aceh seperti dalam kitab nazam dan tambeh serta hikayat Aceh, cukup banyak mewariskan pesan-pesan positif ini.

Sifat rampuih (boros) dan heumpah-hampeh (royal) adalah dua sikap hidup manusia yang amat merugikan. Boros atau mubazir bisa menyebabkan kekayaan lambat berkembang, sedangkan royal  cenderung mengantarkan pelakunya ke jurang kemiskinan(papa,paling miskin). 

 Secara umum kedua perilaku buruk ini berupa sifat yang tidak mencintai  harta yang dimiliki serta ‘membuang’ atau menghamburkan  harta dengan seenaknya tanpa memikirkan akibat di belakang hari.

Kruuu seumangat!
           Tempo dulu, sifat rampuih(boros)  amat tercela dalam kehidupan sebuah keluarga dan bagi masyarakat Aceh. Sejak kecil anak-anak sudah dibiasakan hidup secara prihatin, tidak boros.

Kalau makan, dianjurkan Ibu agar nasi jangan bersisa di piring, harus dimakan habis. Bu beule-le, eungkot beucut-cut(nasi yang perlu banyak dimakan, sedangkan ikan yang kecil saja). Soe rayek  pajoh eungkot meuglang(siapa banyak makan ikan akan cacingan), kata Mama yang disetujui sang Ayah.    

 Akibat didikan sejak balita, sampai hari tua pun mereka tetap memelihara sikap hidup yang bersahaja. Kalau mencuci piring, dilakukan dengan hati-hati tidak membuat mangkuk- piring krang-kring bergesekan bahkan retak dan pecah. Lauk dan kuah yang lebih tidak dibiarkan sampai basi lalu dibuang, tetapi dipanaskan lagi hingga dapat digunakan  pada waktu  makan berikutnya . Saat membuang makanan basi, orang-orang tua tempo dulu secara khidmat mengucapkan:” kruu seumangaaat!!(kembalilah hai semangat), seolah mohon maaf kepada makanan basi yang dibuangnya. 

Di era sekarang, sifat berhemat seperti  demikian  sudah dimakan erosi zaman. Hidup secara rampuih (boros) sudah menjadi-jadi dan merajalela, akibat iklan dan tontonan di televisi yang tidak mencerahkan kehidupan. Sebenarnya, sekiranya ada kemauan; pihak penguasa dapat menapis dan menyaring perkembangan perilaku boros ini!.

          Sifeut heumpah-hampeh (sifat royal) termasuk perangai paling buruk dalam hal pengelolaan harta kekayaan. Bagi seorang pedagang pemula, bila dia bersikap hidup royal tentu cepat puas dalam usahanya. Dengan segera ia kurang mampu memisahkan antara  modal dengan keuntungan yang diperoleh.

 Akibatnya ia cepat  berlagak sebagai ‘toke besar’ yang berhasil dalam penampilannya. Karenanya, ia berangsur bangkrut gara-gara sebagian modal sudah dipakai buat ‘membeli penampilan’ itu.

           Heumpah-hampeh juga sering dilakukan oleh anak-anak yang menerima warisan dari orangtuanya. Dia menjadi kalang-kabut dan kebingungan dalam mengelola kekayaan warisan. Segala penat-lelah atau cucuran keringat dari orangtuanya ketika mengumpulkan harta itu segera terlupakan. 

Akibatnya, satu demi satu harta warisan dijualnya untuk memuaskan nafsu kemewahan hidupnya. Hal demikian semakin diperburuk, jika pendamping (istri atau suami)  dan teman-teman sekelilingnya memang ikut mengincar kekayaan tersebut. Akhirnya, ia pun jatuh miskin.  Itulah sebabnya, kekayaan seseorang jarang dapat diwariskan secara turun-temurun.

         Dalam mengakhiri  artikel ini,  kami  menghimbau Pemerintah Aceh agar terus bersungguh-sungguh membela  petani di kampung-kampung  seluruh Aceh.  Mayoritas warga Aceh adalah petani, berarti rakyat Aceh yang miskin sekarang sebagian besar  juga  petani.

 Kehidupan petani amat terjepit sepanjang masa. Mereka tidak pernah lepas dari jerat “gali lobang tutup lobang”. Bila semua petani Aceh sudah  makmur, maka barulah kemiskinan di Aceh sirna.  Semoga para pemimpin Aceh yang dihasilkan PEMILU    2019, semuanya memiliki sifat keberpihakan kepada rakyat Aceh yang masih miskin. Anggaran Aceh setiap tahun melimpah. Kalau  mau makmur,  insya Allah!.

Selamat Tahun Baru 2020! Semoga rakyat Aceh makmur dan sejahtera mulai tahun 2020  ini!!![]

*T.A. Sakti, peminat manuskrip dan sastra Aceh, penerima Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden RI  di Istana Negara Jakarta,  tanggal 14 Agustus  2003. 

Banda Aceh, 1 Januari  2020, pukul 00.50 malam Rabu.