Aceh dikenal sebagai daerah seribu warung kopi. Beragam jenis kopi diracik, dari kelas kaki lima, warung tradisional, kafe modern, bahkan hingga ke bivak di pinggiran sungai. Seperti di “Camp Biawak” sebuah tempat nongkrong dan diskusi anak-anak muda dan mahasiswa di bantaran Krueng Aceh.

Di Kamp Biawak ini disajikan satu jenis racikan kopi baru yang mulai banyak digandrungi anak muda, namanya Kobite alias Kopi Biawak Tebu Espreso. Jangan bayangkan Anda menikmati kopi dengan campuran sesuatu dari reptile biawak, apalagi sampai menduga kopi bercampur telur biawak. Salah besar. Kobite hanyalah kombinasi dari kopi espresso dan perasan air tebu.

Nama biawak yang disandingkan di dalamnya hanyalah nama kamp atau bivak tempat warung kopi pinggiran sungai itu berada. Selain itu kata “BIAWAK” juga kepanjangan dari Bikin Anda Waras Kembali, tagline inilah yang memikat pengunjung untuk mencoba kopi satu ini.

Teniro, barista Kobite di Kamp Biawak mengungkapkan awal mula tercetus nama Kamp Biawak adalah karena melihat fenomena anak muda Aceh yang jenuh dengan lokasi minum kopi yang biasa-biasa saja, sehingga ditawarkan sensasi minum kopi dengan suasana menyatu dengan alam.

“Kita ingin menawarkan konsep minum kopi dengan sensasi dekat dengan alam. Kita bisa lihat furniture yang ada di Kamp Biawak merupakan kayu limbah yang hanyut di sungai kemudian difungsikan untuk tempat duduk dan meja kopi,” kata Teniro.

Teniro menambahkan, Kobite menawarkan kopi berbeda dengan kopi-kopi yang ada di warung kopi lainnya. Sebab di Kamp Biawak, kopi asli dikolaborasikan dengan tebu, atas dasar itu mereka menamakan Kobite. “Ada salah satu barista di sini mengolaborasikan antara kopi dan tebu, sehingga tercetuslah nama Kobite, Kopi Biawak Tebu Espresso,” ujarnya.

Tak lupa, Teniro menjelaskan cara meracik Kobite dengan tebu pilihan yang diambil langsung di tempat petani khusus, sehingga rasanya enak dan dapat dinikmati orang banyak di Kamp Biawak.

“Tebunya itu tebu pilihan yang berwarna hijau. Jadi kita ingin menawarkan minum kopi tidak memakai gula, tapi menggunakan sumber dari gula terbut yakni batang tebu,” ungkapnya.

Arifin Jamaris, mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Banda Aceh mengungkapkan rasa Kobite sangat segar, apalagi saat disajikan dengan potongan tebu yang menawarkan sensasi berbeda.

“Campuran air tebu dan espresso sangat nikmat apalagi disajikan dengan potongan batang tebu, saat diminum sangat segar tanpa menghilangkan rasa khas kopi Gayo,” ungkap Arifin.

Kamp Biawak ini berlokasi di daerah Limpok, Kabupaten Aceh Besar. Tidak jauh dari universitas negeri yang ada di Darussalam. Di sana pengunjung juga bisa membaca buku-buku yang disediakan pihak Kamp Biawak.

Kamp Biawak dibuka mulai pukul 16.00 – 23.30 WIB. Pengunjung yang datang umumnya mahasiswa ingin ngopi sore sambil berdiskusi ditemani alam.[Razi]