BANDA ACEH – Nasib pengungsi Rohingya yang tersebar di sejumlah titik pengungsian di Aceh hingga kini masih belum menentu dan cukup memprihatinkan. Untuk itu, MER-C bersama sejumlah lembaga dan organisasi kemanusiaan lainnya terus berupaya memberikan perhatian melalui berbagai program bantuan serta advokasi pemenuhan hak-hak dasar pengungsi.

Koordinator MER-C untuk Aceh, Ira Hadiati, S.H., Senin, 4 Mei 2026, turut menghadiri pertemuan koordinasi bersama sejumlah lembaga kemanusiaan lainya guna membahas penanganan pengungsi Rohingya di Aceh.

Pertemuan tersebut menggarisbawahi sejumlah permasalahan utama, antara lain akses pendidikan anak-anak pengungsi yang belum konsisten, terbatasnya kesempatan pendidikan bagi pengungsi usia dewasa, lemahnya pemberdayaan ekonomi karena bantuan CBI (cash-based interventions) yang belum mencukupi, serta tidak adanya akses kerja formal akibat keterbatasan legal.

Selain itu, sistem pengelolaan data pengungsi masih belum optimal untuk mendukung pengambilan kebijakan, sementara penurunan anggaran kemanusiaan akibat instabilitas ekonomi global turut berdampak pada lembaga yang menangani pengungsi.

Praktik kerja informal yang tidak terdata, belum optimalnya integrasi sosial-ekonomi dengan masyarakat sekitar, serta belum berkelanjutannya mekanisme rujukan layanan kesehatan, terutama untuk kasus non-darurat, juga menjadi perhatian. Pendekatan penanganan pengungsi pun dinilai belum sepenuhnya humanis di tingkat nasional maupun lokal.

Berdasarkan hasil koordinasi tersebut, MER-C bersama sejumlah lembaga lainnya mendorong dibukanya akses pendidikan yang berkelanjutan bagi anak-anak serta perluasan pembelajaran bagi pengungsi dewasa melalui skema berbagi keterampilan.

Selain itu, diharapkan adanya penguatan pemberdayaan ekonomi yang lebih berkelanjutan dan aman, peningkatan integrasi sosial-ekonomi dengan masyarakat, serta perluasan layanan kesehatan dan sistem rujukan yang lebih berkelanjutan, disertai pendekatan kebijakan yang lebih manusiawi dan inklusif.[]