Taufik Sentana
Ikatan Dai Indonesia.Kab.Aceh Barat

Alangkah indahnya, bila merindu saja akan tetap bermakna. Sebab setiap kebaikan yang melintas akan tercatat menjadi hasanah selama  muncul dari kemurnian hati. Apatah lagi saat merindukan kebaikan utama dalam bulan istimewa: Merindukan malam qadar dalam selubung rahasia para pencari.

Memang sejatinya ia mulai dirindu saat awal mula ramadan muncul, lalu menyiapkan diri secara bertahap hingga sampai ke malam malam akhir ramadan, dan inilah bagian dari puncak rindu itu, sebab nilai amal di dalamnya sebanding amal selama 83 tahun. Siapanpun yang tak tergiur  pastilah karena ketidakpahaman dan lemahnya kesadaran hakikat ibadah.

Malam qadar yang dimaksud bukan semata malam kemuliaan karena turunnya Alquran, tetapi juga karena pada malam itu semua urusan semesta (dalam satu tahun ke depan) dirincikan secara Bijak (Surat Dukhan, 1-4), saat dimana para malaikat memenuhi massa ruang demi menabur rahmat. 

Pada malam itu pula Ditetapkan segala kejadian dan peristiwa yang dialami manusia, baik ataupun buruk. Bila itu buruk maka keburukan itu karena ulah diri sendiri, atau dengan keburukan yang ditimpakan itu Allah sedang Ingin Mensucikan diri kita, agar kita ber-inabat, bertaubat, beristighfar dan memperbaiki pengabdian kita.

Maka tak ada yang dapat menangkal takdir buruk kecuali doa dan sedekah yang kita tunaikan. Terutama pada malam malam akhir ramadan. Sehingga apapun yang menimpa kita kemudian semoga hanyalah kebaikan semata. Kebaikan yang melampaui harapan usia kita yang lazim. Kebaikan yang dengannya diri, keluarga dan perangkat sosial kita terwarnai pula dalam naungan ghafur, berkah dan rahmat Allah.[]