Mungkinkah muslim Sunni, Syiah, Alawi dan Sufi melaksanakan salat bersama?
Mungkinkah mendirikan sebuah mesjid yang memungkinkan laki-laki dan perempuan salat berdampingan?
Mungkinkah seorang imam itu perempuan dan bahkan tidak memakai penutup kepala?
Ya, dialah Seyran Ates, sosok pembela feminis, advokat, muslim Sunni dan seorang imam perempuan yang berhasil menjawab pertanyaan tersebut. Dialah sosok di balik Mesjid Ibn Rusyd – Goethe, mesjid yang berada di lantai tiga sebuah gereja, gereja St.John di Berlin. Nama mesjid diambil untuk menghormati dan mengenang sosok filsuf, pemikir dan ilmuwan Islam Ibnu Rusydi (1126-1198) dan juga filsuf dan penyair ternama dari Jerman Johann Wolfgang Von Goethe (1749-1832).
Dilahirkan di Turki tahun 1963 kemudian berimigrasi ke Jerman di usia enam tahun. Di tahun 1997 dia memulai karir sebagai pengacara yang melawan kasus-kasus kekerasan rumah tangga dan perkawinan paksa. Selain itu, Ates juga merupakan anggota lembaga konferensi Islam di bawah naungan menteri dalam negeri Jerman, Wolfgang Schauble.
Dalam wawancaranya dengan berita Spiegel online, Ates menyebutkan bahwa, ”mesjid tersebut terbuka untuk umum tidak ada pengecualian. Tidak ada yang yang memakai penutup kepala dan burqa”. Dia menambahkan bahwa mesjid merupakan tempat berkumpul semua keyakinan, Sunni, Syiah, Alawi, dan Sufi.
Ates melihat bahwa Islam di Jerman adalah koservatif dan bukan Islam yang diterima di Eropa saat ini. Muslim menginginkan Islam modern penuh kedamaian yang mengedepankan dialog dengan agama- agama lain.
Guna mencapai tujuannya, Ates berhasil melobi dan membujuk dewan jemaat gereja St. John di Berlin. Namun, apakah dengan memperoleh izin pendirian mesjid liberal di gereja tersebut maka masyarakat Berlin akan menerima dengan tenang? Tidak, bahkan banyak penduduk lokal yang membawa spanduk dan selebaran penolakan yang menyatakan bahwa Islam tidak ada tempat di Jerman. Mereka khawatir dengan isu keamanan dan teroris. Ates menjawab kekhawatiran tersebut dengan mengatakan bahwa keamanan merupakan prioritas utama dan merupakan tanggungjawab bersama.
Selama delapan tahun Ates berusaha keras mewujudkan pendirian mesjid tersebut. Di tengah tengah kritik, ancaman dan kekhawatiran akan penolakan. Seperti dikutip dari Al- Shabab bahwa Dar al-Ifta al-Misriyyah, sebuah badan organisasi Islam pemerintah Mesir yang mewadahi isu dan permasalan seputar perbedaan antara muslim, menjawab kontroversi tersebut, “dalam urusan ibadah (salat), pemisahan gender tidak bisa dihilangkan serta merta”.
Dalam wawancara dengan stasiun berita DeutcheWelle (DW), salah seorang profesor bidang agama dan politik dari Universitas Munster, Fabian Wittreck mengatakan dengan keberhasilan mendirikan sebuah mesjid liberal maka Ates menjadi” sosok juara dalam Islam modern”. Ini merupakan sesuatu yang luar biasa karena keinginannya yang berbeda dengan institusi Islam konservatif lainnya.
Sementara itu, pasca serangan terhadap kota Manchester dan London, Ates mendesak umat Muslim untuk melakukan usaha yang lebih banyak untuk melawan ekstremisme dalam Islam. Kebisuan mayoritas Muslim harus diakhiri, Ates menambahkan “saya sangat prihatin sekarang ini jika muncul pertanyaan apakah yang anda lakukan jika agama anda dilecehkan?” jawaban untuk pertanyaan ini tentu sulit. “di Mesjid Ibn Rushd-Goethe inilah kita berusaha menemukan jawaban bersama”, tutupnya.[]
Diterjemahkan oleh Muhammad Ichsan, Mahasiswa Bahasa Inggris Universitas Syiah Kuala Angkatan 2014
Lihat naskah aslinya di sini





