LHOKSUKON – Meyakinkan peserta didik (siswa) untuk mau bersaing di kancah nasional bukanlah hal yang mudah, mengingat Kecamatan Paya Bakong merupakan kawasan pedalaman Kabupaten Aceh Utara. Dengan peralatan seadanya dan jaringan internet yang terbatas, pihak sekolah berupaya membangkitkan motivasi siswa.
“Meski orang kampung, jika ada kemauan pasti ada jalan”. Kalimat itulah yang kerap dikatakan Sayuti S.Pd., dan guru pembimbing untuk meyakinkan para siswanya agar mau bersaing di kancah nasional. Siapa sangka, justru mereka terpilih untuk mewakili Indonesia ke kancah internasional di Kazakhstan.
(Baca: Dua Siswa Pedalaman Aceh Utara Mewakili Indonesia ke Kazakhstan)
“Dengan peralatan terbatas dan seadanya, kami mencoba menggali dan membangkitkan motivasi orang tua dan peserta didik. Kami yakinkan bahwa tempat tinggal atau lokasi sekolah di kawasan terpencil itu bukan hambatan. Asalkan ada kemauan, meski kita orang kampung, Insya Allah semua bisa dicapai. Inilah yang kita coba dongkrak dari siswa dengan peralatan seadanya. Memang di sini internet sudah ada, tapi masih terbatas,” ungkap Sayuti, Kepala SMA Negeri 1 Paya Bakong kepada portalsatu.com/ via telpon seluler, Senin, 27 Februari 2017.
Sayuti menjelaskan, proposal penelitian ilmiah tentang penggunaan aplikasi software komputer untuk tuna rungu itu diajukan melalui internet.
“Even ini tidak ada seleksi tingkat kecamatan, kabupaten atau pun provinsi. Kebetulan ada guru di sini yang memiliki koneksi informasi terkait lomba di Tanggerang tersebut, maka diajukanlah proposal siswa itu. Dari sekitar 450 proposal yang masuk, hanya 125 yang lulus seleksi sebagai finalis. Untuk komputer ada 10 kelompok. Alhamdulillah, Paya Bakong meraih juara II, mendali perak,” ujar Sayuti.
Bagi Sayuti, pencapaian yang diperoleh siswanya merupakan hal yang luar biasa. “Fadlon dan Maulidi Rahmi adalah anak-anak yang membanggakan. Khususnya Maulidi Rahmi, dia beranjak dari keluarga bekas konflik, bahkan ayahnya juga meninggal akibat konflik dahulu. Kita selalu mencoba menyemangati anak-anak untuk bangkit dan melupakan konflik yang pernah terjadi,” katanya.
“Saat ini anak-anak masih di Jakarta. Insya Allah besok sudah tiba kembali di Aceh. Namun mereka pasti kelelahan, sehingga besok kita izinkan mereka untuk beristirahat. Lusa baru kembali lagi ke sekolah untuk belajar seperti biasanya,” tambah Sayuti.
Menurutnya, beberapa waktu lalu siswa Paya Bakong juga pernah mengikuti lomba tingkat nasional di Surabaya. “Berkat ketekunan dan keyakinan siswa, serta kegigihan guru pembimbing, akhirnya para siswa itu mampu mengharumkan nama sekolah, Aceh Utara dan Aceh tentunya,” pungkas Sayuti.[]



