BANDA ACEH – Diskusi terkait polemik bendera Bintang Bulan yang dihelat di A Cafee Banda Aceh kemarin berjalan alot. Antusiasme dan semangat peserta telah tampak sejak awal diskusi tersebut dimulai. Salah seorang peserta bahkan menawarkan solusi yang tergolong ekstrem dalam diskusi itu.

“Tiep thôn sabé na isu bendera. Nye kali nyoe meunye bendera hana ji-ék ka jeut publoe nanggroe laju keudéh (setiap tahun selalu ada isu bendera. Kali ini jika bendera gagal naik, jual saja daerah ini),” kata Rahmad Dasda, salah seorang peserta diskusi saat melontarkan tanggapannya kepada pembicara, Selasa, 29 Maret 2016.

Ia mengatakan, diskusi dan polemik bendera terkesan isu yang dibangun menjelang pilkada. Bahkan, ia mengecam pihak-pihak yang membawa kemabali isu tersebut ke permukaan saat menjelang pemilu, tetapi nihil realisasi.

“Meunye bendera hana ji-ék bèk ba lé isu nyan keunoe. Bèk na kandidat yang iming-iming peu-ék bendera (kalau bendera tidak naik jangan angkat lagi isu itu. Jangan ada kandidat yang mengiming-imingi menaikkan bendera),” kata dia.

Rahmad yang belakangan diketahui sebagai pemuda Aceh Timur ini juga mengatakan, diskusi tentang bendera hanya akan menjadi sandiwara belaka jika bendera tidak pernah dinaikkan.

“Meunye na diskusi tentang bendera lagèe nyoe, nyan filem mandum (kalau ada diskusi tentang bendera seperti ini, itu film semua),” kata dia lagi.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi I DPRA Abdullah Saleh selaku pembicara menegaskan, tidak ada kandidat yang mencoba mempolitisasi persoalan bendera.

“Dengan pola apa pun persoalan bendera harus diselesaikan,” kata Abdullah Saleh.[](ihn/*sar)