“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih”. (QS. Yusuf : 24) .

Para ulama tafsir berpendapat bahwa “burhan” (tanda) pada ayat di atas yang dilihat oleh Nabi Yusuf a.s., sebagaimana yang diungkapkan Syekh Ibnu Kasir dalam tafsirannnya ada beberapa argumen. Pertama, riwayat dari pada Ibn 'Abbas, Sa'id, Mujahid, Sa'id bin Jubair, Muhammad bin Sirin, al-Hasan, Qatadah, Abi Salih, al-Dahak, Muhammad bin Ishaq dan lain-lainnya menyebutkan bahwa Nabi Yusuf a.s., itu telah melihat rupa ayahandanya, Nabi Ya'qub sedang menggigit jari-jari tangannya. Disebutkan pula dalam satu riwayat lainnya dari Ibn 'Abas (juga) bahwa Nabi Ya'qub telah memukul dada Nabi Yusuf. Kedua, Al-'Awfi berkata (berdasarkan riwayat) dari Ibn 'Ab bas bahwa Nabi Yusuf telah nampak dalam pandangannya rupa raja yang menjadi tuannya itu (menurut pendapat ulama, beliau bernama Qithfir).

Berdasarkan ayat di atas bahwa Nabi Yusuf telah melihat ayahnya Ya'kub dan ini diperkuat juga argumen yang dikutip oleh Imam At-Thabari dalam tafsirnya, Ibnu Abbas r.a., menjelaskan bahwa ungkapan andaikata Yusuf tidak melihat bukti tuhannya dalam surah yusuf di atas tersebut adalah andaikata beliau tidak melihat bayangan bentuk wajah ayahnya [Tafsir al-Thabari,XII: 186].

Semakin jelas dari ungkapan Ibn Abbas ini bahwa Yusuf mengalami sebuah ikatan bathin yang kuat secara otomatis dengan izin Allah. Sudah selayaknya kita untuk terus berusaha selalu “bersama” dengan Allah dan kalaupun tidak sampai ke tingkat tersebut. Kita diperintah untuk bergaul dengan orang yang bersama dengan Allah, terlebih di era globalisasi yang sangat banyak tantangan dan cobaan. Merespon fenomena ini sebagian kaum arifibillah (orang-orang yang sudah mengenal Allah SWT) berkata: “Bersamalah engkau selalu dengan Allah, dan jika engkau belum bisa, maka bersamalah engkau selalu dengan orang yang sudah bersama dengan Allah” (Tanwirul Qulub, hal. 512).

Dalam pandangan ulama tasawuf, untuk menumbuhkan rasa cinta, kita juga dianjurkan harus mampu mewujudkan ikatan bathin dengan para guru merupakan salah satu metode untuk mendapatkan wasilah menuju Allah. 

Salah satu ayat dalam Al-Quran yang diperintah kita berwasilah sebagaimana disebutkan dalam kalam Allah SWT  yang beberbunyi: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihatlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan”. (QS. al Maidah [5] : 35)

Sementara itu dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh“. 

Namun, kita belum dekat dengan Allah atau belum dapat menyaksikan Allah dengan mata hati atau belum mencapai ma’rifat maka setiap kita akan bersikap atau melakukan sesuatu. Ingatlah selalu perkataan Rasulullah yang merupakan sebagai manifestasi martabat ihsan yang berbunyi: “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau”’ (HR Muslim, No. 11)[]