Oleh Muhajir

Bagi masyarakat Aceh, Hamzah Fansuri atau Syaikh Hamzah Fansuri bukanlah nama yang asing. Namun lokasi di mana letak makamnya saat ini masih kontroversi. Padahal, Syaikh Hamzah Fansuri merupakan ulama besar dan juga seorang penyair hebat yang dimiliki Aceh pada masanya.

Ada beberapa lokasi yang mengabarkan lokasi tempat beliau dimakamkan. Yang pertama Ujong Pancu, Peukan Bada, Aceh Besar. Lokasi ini dikatakan menjadi tempat beliau dimakamkan karena adanya cerita yang berkembang di masyarakat Aceh bahwa Syaikh Hamzah Fansuri dihukum pancung di depan Mesjid Raya Baiturrahman dan dimakamkan di pinggir laut.

Lokasi kedua disebutkan adalah di Gampong Oboh, Rundeng, Subulussalam. Diyakini Syaikh Hamzah Fansuri dimakamkan di Oboh karena ada cerita yang berkembang di masyarakat Subulussalam dan Singkil tentang tanah jujur.

Di mana pada masa hidupnya Syaikh Hamzah Fansuri diceritakan menanam sekaleng padi, panennya pun sekaleng. Saat Syaikh Hamzah Fansuri menanam padi sekaleng di daerah lain, hasil panennya menjadi ratusan kaleng.

Sehingga menurut cerita, beliau mengatakan Gampong Oboh inilah, tanah jujur. Hingga kini masyarakat di Subulussalam dan Singkil meyakini, di tanah jujur (Gampong Oboh) lah tempat di mana Syaikh Hamzah Fansuri dimakamkan.

Lokasi ketiga yang berkembang di pekuburan Ma’la, Mekkah, Arab Saudi. Lokasi ini berkembang karena ada inskripsi nisan yang ditemukan oleh peneliti asing, Claude Guillot dan Ludvik Kalus di Pekuburan Ma’la yang bertuliskan Hamzah Fansuri sebagaimana disebutkan dalam buku mereka; Batu Nisan Hamzah Fansuri.

Bahkan terakhir ini ada kabar yang tersebar, makam Syaikh Hamzah Fansuri ada di Langkawi, Malaysia. Ini berdasarkan pengakuan Wakil Gubernur Aceh, Muzakir Manaf yang merasa terkejut saat mengetahui ada makam Syaikh Hamzah Fansuri di Gampong Oboh, Rundeng, Subulussalam.

Dari beberapa lokasi yang berkembang di atas, beberapa ahli ikut berkomentar tentang lokasi di mana Syaikh Hamzah Fansuri dimakamkan. Presiden Alhilal International Group, Hilmy Bakar Almascaty dalam opininya yang dimuat pada harian Serambi Indonesia edisi Minggu, 3 Maret 2013 yang berjudul; Misteri Syaikh Hamzah Fansuri, menyebutkan makam Syaih Hamzah Fansuri berada di pekuburan Ma’la, Mekkah.

Di sisi lain, Peneliti Sejarah Islam di Aceh, Teungku Taqiyuddin Muhammad, Lc dalam tulisannya; Di manakah Fansur (edisi 4) yang dimuat pada situs misykah.com menyebutkan bahwa makam yang di Gampong Oboh bukanlah makam Syaikh Hamzah Fansuri, melainkan makam dari tokoh lain.

Dari inskripsi nisan yang dibacakan Taqiyuddin memuat nama Syaikh Abdurrauh bin Imam Syah Mardan. Di mana inskripsi nisan tersebut Taqiyuddin temukan pada keterangan gambar di salah satu laporan Pendataan Benda Cagar Budaya yang terdapat di perpustakaan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banda Aceh.

Kondisi yang belum ada kepastian jelas di mana pastinya lokasi makam Syaikh Hamzah Fansuri menjadikan sosok beliau semakin misteri. Bahkan kondisi inipun akan menambah permasalahan di kemudian hari. Dikhawatirkan, jika kondisi ini dibiarkan ke depannya akan semakin banyak yang mengklaim lokasi tempat beliau dimakamkan. Mengingat sosok Hamzah Fansuri, bukan hanya tokoh bagi Aceh semata, melainkan juga tokoh bagi Asia Tenggara.

Bahkan saat ini jika kita telusuri nama Hamzah Fansuri di mesin pencarian google.com, di situs wikipedia.org disebutkan bahwa ada pendapat yang mengatakan Syaikh Hamzah Fansuri lahir di Ayuttahya, bekas ibukota Kerajaan Siam, Thailand.

Untuk itu, Pemerintah Aceh sudah berkewajiban membentuk tim peneliti khusus untuk mengkaji sosok Syaikh Hamzah Fansuri. Baik itu berupa biografi, karya maupun lokasi tempat beliau dimakamkan.

Walaupun menghabiskan biaya besar, namun meneliti ini adalah sesuatu yang penting untuk Aceh. Mengingat Syaikh Hamzah Fansuri adalah salah seorang tokoh besar yang telah mengharumkan nama Aceh pada masanya.

Bahkan membangun sebuah monumen kenangan baik itu tugu maupun museum sastra Hamzah Fansuri juga hal yang seharusnya dilakukan, baik itu dibangun oleh Pemerintah Indonesia, Pemerintah Aceh maupun oleh swasta yang berbentuk dana sosial CSR (Corporate Social Responsibility).

Mengingat, hasil karya beliau telah memberi pengaruh luar biasa terhadap pengembangan bahasa Melayu baik sebagai bahasa ilmu maupun bahasa sastra. Selain itu, atas karyanya pula, Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, pada Agustus 2013, menganugerahkan  Bintang Budaya Parama Dharma kepada beliau.[]

*Muhajir, Penggiat Sejarah Aceh dan Alumnus Sekolah Hamzah Fansuri (ASHaF)