Makrifat Waktu, Demi Masa

Seruan-seruan itu lantang,
tapi aku tidak mendengarkan
dicatat, disimpan, diucapkan, di sekeliling

Lembaran mushaf.

Jika aku mengingat diri sejenak, suara-suara lantang itu akan masuk ke telingaku dengan berbagai alunan

Pada sebagian malam
di saat bumi senyap,
doa apa yang kukumandangkan pada alam semesta.
Oh, penganiaya diri.

Telah berlalu banyak waktu,
berlalu tanpa basa-basi
telah menebas sekalian kesempatan
untuk dunia, untuk alam abadi, hari kebangkitan
O, penganiaya diri.

Ketika ingin kubicarakan sekarang,
saat ini adalah waktu ini,
kemarin tidak ada lagi
tidak dapat kuganti

Hari ini, kuisi dengan
menebus yang lalu
tapi yang lalu tidak terisi
yang terisi hari ini untuk menebus yang lalu.

Maka, aku kehilangan dua waktu.
Waktu lalu
Waktu sekarang yang kugunakan untuk menebus yang lalu.
O, penganiaya diri.

Demi masa, bisakah kupahami sumpah itu?

Wahai pemilik waktu,
pemilik alam semesta
berikanlah akan daku pemahaman
makrifat waktu, makrifat Dirimu
berikanlah akan daku makrifat diri.

Banda Aceh, 23 April 2025 / 25 Syawal 1446 H.

Thayeb Loh Angen (Muhammad Thaib bin Sulaiman).