Minggu, Juli 14, 2024

Tanggapan Ketua DPRK Aceh...

ACEH UTARA - Mendagri Tito Karnavian memperpanjang masa jabatan Pj. Bupati Aceh Utara...

Selamat! 2 Siswa Kota...

SUBULUSSALAM - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Balai Pengembangan Talenta...

Besok, Mahyuzar akan Terima...

ACEH UTARA - Dr. Mahyuzar, M.Si., akan menerima Surat Keputusan (SK) Mendagri tentang...

Jabatan Pj Bupati Aceh...

ACEH UTARA - Masa jabatan Penjabat Bupati Aceh Utara, Dr. Mahyuzar, genap satu...
BerandaMisteri Osman Raliby,...

Misteri Osman Raliby, Prof Asal Aceh yang Berguru pada Menteri Hitler

Dalam beberapa hari terakhir, saya mencari data tentang seorang intelektual zaman Sukarno dan Ali Hasjmy, Osman Raliby. Setelah beberapa hari, saya menemukan akun twitter Prof Yusril Ihza Mahendra, twitter.com/yusrilihza_mhd, ia menulis “Osman Raliby lahir di Sigli, Aceh”.

Tentu saja saya terkejut.

Di siaran lain dalam akun yang sama, Yusril menulis “Osman Raliby berguru dengan Jozef Goebbels, menteri penerangan Jerman zaman Adolf Hitler”

Saya lebih terkejut lagi, terkesima. Hitler. Berbeda dengan kebanyakan orang yang menganggap Hitler menakutkan, jahat, dan kejam–karena termakan fitnah kaum Barat–saya malah mengagumi Hitler, yang telah melakukan sesuatu cara paling hebat di abad modern, sebuah contoh kepemimpinan mutlak yang belum bisa ditandingi oleh siapapun.

Tentang Hitler, saya suka saat membaca berita bahwa salah satu pemimpin terkuat di dunia di zaman ini, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, ternyata menilai bahwa kepemimpinan Adolf Hitler untuk Jerman di Eropa itu efektif. Kita harus memandang Hitler dengan sudut pandang yang lebih luas.

Di siaran lain dalam akun yang sama, ia menampilkan foto dengan tulisan “Guru saya Prof Osman Raliby bersama Presiden Sukarno dalam perayaan HUT RI thn 1954 di Istana Negara”, yang sebelumnya saya baca, Yusril menulis pernah menjadi asisten Osman Raliby.

Dan banyak lagi, saya belum sempat mencarinya, dan belum menghubungi seseorang yang membuatku bisa mewawancarai Prof Yusril Ihza Mahendra khusus tentang Osman Raliby.

Bagi saya, sampai tulisan ini tersiarkan, Osman Raliby masih misteri. Saya menduga ia pasti terlibat kuat dengan pemerdekaan Indonesia. Namun saya belum menemukan datanya–yang tentu saja itu menyakitkan apabila Osman memang berjasa tentang itu karena mengingat perlakuan Jakarta untuk Aceh–. Mungkin lain kali kita bicara lebih detil tentangnya. 

Laman aip-aly-arfan.blogspot.co.id, menulis, Osman Raliby, dalam tulisannya, pernah mengutip Muhammad Iqbal, penyair Idia, yang mengecam peradaban Barat:

“Wahai Bangsa Barat,
Bumi Tuhan ini bukanlah toko,
Emas yang kau sangka murni kini ternyata bernilai rendah.
Kebudayaan bakal bunuh diri dengan pedangnya sendiri,
Sangkar atas dahan yang lapuk tidaklah bisa menjadi aman”

Tulis Iqbal, dikutip Osman Raliby.

Laman tersebut juga mengambil referensi dari buku Osman Raliby terbitan tahun 1965, berjudul “Ibnu Chaldun Tentang Masjarakat dan Negara”, diterbitkan di Jakarta, oleh Penerbit Bulan Bintang. Itu salah satu karya monumental Raliby.

Laman inpasonline.com, menyiarkan sebuah tulisan bertajuk “Meneladani Pendahulu”.
Di sini saya kutip utuh tulisan itu.

[Alhamdulillah, meski baru secara acak, beberapa buku tipis  hasil perburuan di alun-alun utara itu mulai saya baca dan dalami. Islam dan Socialisme karya Prof. Rasyidi, Dialog Kristen/Islam, Peranan Nabi Ibrahim terhadap Jahudi, Kristen dan Islam antara Kyai Arkanuddin Masruri dan Dr. C. Groenen OFM,Ibnu Khaldun tentang Masyarakat dan Negara karya  Prof. Osman Raliby, Kebudayaan Islam Dalam Perspektif Sejarah kumpulan tulisan M. Natsir dan Tinjauan Tentang Agama Masehi karya prof. Syech Abu Zahrah.

Ditambah satu copyan buku milik mas Isa Anshory, Di Sekitar Kebatinan, yang merupakan polemik antara Drs. Warsito S, Prof. Rasyidi dan KH. Hasbullah Bakry, SH.

Ketika melakukan kritik terhadap faham Socialisme, Prof. Rasyidi secara dingin menguraikan tentang sejarah kemunculannya, doktrin-doktrin socialism, perkembangan pemikiran dan aliran-alirannya sampai pada konflik antara socialism tradisional dengan kelompok revisionis. Setelah kritik internal dalam tubuh socialism selesai dikupas, barulah Prof. Rasyidi menyampaikan gagasannya tentang prinsip-prinsip keadilan social dalam Islam.

Demikian juga ketika beliau berpolemik dengan Dr. Warsito, salah seorang tokoh Kejawen dari Magelang, nampak sekali kedalaman pengetahuan beliau tentang agama Hindu, Budha, Union Mistique dan karya-karya sastra Jawa kuno seperti Serat Sastra Gendhing nya Sultan Agung Hanyokrokusumo dan Wedhatama nya Mangkunegoro IV.  Sehingga argumentasi dari Drs. Warsito yang menyatakan bahwa kejawen yang wujud saat ini merupakan agama asli orang Jawa terpatahkan dan bisa dibuktikan bahwa kejawen yang eksis saat ini merupakan produk kaum Union Mistique yang diintrodusir oleh kelompok freemasonry.

Demikian juga tidak kalah hebat adalah Muhammad Natsir, yang pada usia usia 18 tahun, saat duduk di bangku MULO atau setara SMA, beliau menulis artikel dalam Bahasa Belanda untuk menjawab ceramah pendeta A.C. Christofel yang menyatakan bahwa Muhammad adalah nabi palsu. Nampak sekali kelihaian M. Natsir dalam mematahkan argument pendeta Christofel dengan pemaparan sejarah(Shirah), tafsir ayat, dan kutipan para ahli Al Qur’an.

Bahkan Natsir paham bahwa tudingan pendeta tersebut bersumber dari tulisan para orientalis seperti Noldeke, Juynboll dan Snouck Hurgronje, rujukan Al Qur’annya berpedoman pada terjemahan Dr. S. Keijzer  yang banyak kesalahan dan kecerobohan di dalamnya. Natsir membandingkannya dengan karya penulis Barat lain seperti Sale yang cukup obyektif terhadap Al Qur’an. Dan itu dilakukannya di usia 18 tahun.

Yang termasuk agak mutaakhirin adalah Kyai Arkanuddin. Yang menarik dalam debat kristologi ala Kyai Arkanuddin adalah kesantunan dalam diskusi. Sehingga aura diskusinya betul-betul berada dalam suasana ilmiah, bukan didominasi milleu emosional. Ketika Dr. C. Groenen, yang dalam penguasaan Bahasa Indonesia nya masih ada kekurangan, sebelum menjawab Kyai Arkanuddin lebih dahulu menjelaskan bagian-bagian yang belum jelas dari uraian Dr. C. Groenen. Selain itu nampak sekali sisi kerendah hatian beliau.

“Lebih dahulu kami memperkenalkan tentang pribadi Pater Dr. C. Groenen. Mungkin sebagian para hadirin kurang dapat menangkap uraian Pater karena bicaranya agak kaku. Maklumlah Pater adalah seorang Belanda. Ulasannya serba ilmiah dan banyak mengandung istilah-istilah yang kebanyakan masih asing bagi kita pada umumnya ……

Adapun kami, kami sendiri pun kurang dapat berbicara lancer, apalagi irama kata kami nampak berbaru pesantren, memang kami adalah kelahiran dalam keluarga pondok pesanteren Jamsaren Sala sini, dari ayah yang berbicaranya juga tidak supel.” Namun begitu masuk ke materi dialog, nampak sekali keluasan ilmu dari Kyai Arkanuddin ini, mulai dari pemahamannya akan Al Qur’an, Bible, Sejarah maupun pendapat para ahli di bidang agama.

Kesan-kesan kesantunan, kerendah hatian namun kedalaman ilmu dan wawasan adalah hal-hal yang senantiasa kita akan temui pada karya karya para tokoh Islam masa lalu. Prof. Osman Raliby juga berhasil menyajikan ringkasan karya monumental dari Ibnu Khaldun. Berhasil mengambil gagasan pokok yang disajikan dalam bahasa yang sangat simple, sehingga dapat dimengerti oleh orang awam, bukan hanya anak kuliahan.

Belum lagi bila kita menelaah karya Hamka, seorang modernis yang ahli tasawuf, yang tak segan mengutip Dostojevski ataupun Leo Tolstoy.
Dan sangat berbeda yang kujumpai saat ini …

Bid’ah … kakfir … Musyrik … Sesat … yang seringkali tanpa diikuti pembedahan secara dingin, tanpa rujukan lmu yang memadai ataupun penilaian yang adil atas fakta yang dihukumi. Seperti layaknya amukan macan yang dideskripsikan Syaikh Jangkung di atas.]

Demikianlah, tujuan siaran ini hanya untuk memberitahukan bahwa Osman Raliby itu ada dan telah melakukan hal besar yang harus kita pelajari untuk pengetahuan dan memperbaiki negeri ini. Atau ini sebagai pemberitahuan untuk pembaca yang ternyata telah mengetahui banyak tentangnya, berbagilah, saya ingin mengenal Osman Raliby, pemikiran, karya, dan hidupnya.[]

Thayeb Loh Angen, Penulis Novel Aceh 2025.

Baca juga: