Tapi Imam Zainadine menemukan orang-orang Muslim adalah orang normal. Bahkan Muslim membuatnya terkesan.

Dia sudah berhenti minum alkohol pada tahap itu dalam hidupnya. “Sangat sulit menemukan pasangan yang tidak minum alkohol,” ujarnya.

Dia bermain sepak bola dengan teman-teman muslimnya dan setelah itu mulai bertanya tentang Islam. Gagasan menyembah Tuhan sendiri dan tidak menghubungkan salah satu rekannya dalam penyembahan menarik baginya.

“Islam menempatkan Yesus sebagai Nabi utusan Tuhan, tapi bukan (sebagai) Tuhan,” katanya.

Dia membaca buku-buku tentang Nabi Muhammad dan Islam sebelum pergi ke masjid Labrador untuk bertemu dengan Imam.

“Hal yang saya ingat tentang masjid adalah semua orang tersenyum, yang sangat berbeda dengan apa yang kalian lihat di TV,” jelasnya.

Istrinya juga tertarik pada Islam sehingga pada April tahun 2000 mereka menjadi Muslim. Menyampaikan berita kepada keluarganya bahwa mereka telah memelluk Islam bukanlah proses yang mulus.

Sebelumnya, ibu Imam Zainadine telah menyuruhnya untuk memilih agama, tapi bukan Islam. “Saya ingat itu setelah saya menjadi Muslim. Selama sekitar empat bulan aku tidak memberitahunya,” ujarnya.

Dia malah mulai mempraktikkan ajaran Islam dengan mengunjungi ibunya lebih teratur dan membantunya. Itu adalah sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.

Ketika tiba waktu sholat, istrinya akan membuat ibunya sibuk sementara dia menyelinap ke kamar untuk sholat. Dia melakukan hal yang sama untuk istrinya.

Imam Zainadine merasa lega dengan reaksi ibunya ketika akhirnya dia memberi tahu ibunya tentang kebenarannya.

“Dia berkata, saya telah memperhatikan sesuatu yang berubah dalam hidup kamu dan saya pikir itu menjadi lebih baik,” kata Imam Zainadine menirukan perkataan ibunya.

Dia mengubah nama depannya dari Zean menjadi Zainadine dan istrinya mengubah namanya menjadi Eman. Mereka berdua menyimpan nama belakang mereka.[]sumber:republika.co.id