BEBERAPA berita berdasarkan video yang disebarkan tentang Mualem dan rombongan diminta berbalik arah karena salah masuk jalan darurat. 

Mualem dengan kerendahan hatinya pun berbalik arah. Hal itu sikap baik dan rendah hati dari seorang wakil gubernur yang juga panglima GAM sampai masa damai.

Saya ragu, jika dalam keadaan serupa, gubernur atau wakil gubernur terpilih akan berbalik arah ketika diminta balik oleh masyarakat. Tapi Mualem, bersedia.

Namun, para penyebar video dan pembuat berita menambah tulisan hasutan bersamanya, yang telah menimbulkan fitnah besar. Entah apa tujuan penghasut itu. Entah dari mana izin didapatkan untuk menyiarkan video tersebut. Sepertinya kepolisian perlu menindak hal itu, demi kedamaian Aceh. 

Kuperkirakan, telah ada beberapa tulisan fitnah tentang itu untuk Mualem, temasuk oleh media yang seharusnya menjunjung kaedah jurnalisme.

Bahkan orang yang menyebut diri berpendidikan dan intelektual ikut menyebarkan fitnah itu. Sepertinya mereka harus diiperiksa pada psikiater, mungkin ada gangguan jiwa.

Penyebar fitnah itu menuding memaki, seolah-olah itu kesalahan Mualem. Sementara kejadian sebenarnya disembunyikan, atau besar kemungkinan memang tidak mereka ketahui. Mereka hanya memanfaatkan peristiwa, lalu mengarang cerita palsu. (Video: Warga Larang Mualem Melintas?)

Salah masuk jalan yang jarang dilalui adalah hal yang biasa, apabila diminta berbalik arah juga hal yang biasa karena ketidaktahuan. Apalagi itu jalan darurat yang tidak memakai tanda apapun di pintu masuknya.

Yang tidak biasa adalah sikap masyarakat kepada pemimpinnya yang mungkin tergolong kasar, itu pun hampir biasa karena mungkin saja orang di sana harus berteriak supaya suaranya terdengar.

Ketidakhormatan orang pada seorang wakil gubernur menjadi tanda tanya, apakah adab kita sebagai orang Aceh pada pemimpin telah hilang….? Sebenarnya para penyebar fitnah telah menghina pejabat negara. Bagaimana tentang hal itu, tentu para penegak hukum lebih tahu.

Yang betul-betul tidak biasa, bahkan aneh, adalah orang yang membagikan video itu atau berita tentang itu yang disertai dengan menulis secara bangga seakan-akan itu sebuah kehebatan (bersikap kasar pada pemimpin lalu disebarkan bersama fitnah, dianggap bangga..?). 

Orang seperti ini sepertinya punya masalah dengan adab dan cara memandang kebaikan atau kesalahan.

Moral telah jauh bergeser, apalagi yang bersikap begitu yang mengaku berpendidikan atau intelektual. Pandangan sudah berbalik.

Berhati-hatilah dengan penghasut. Perdamaian yang sulit diraih saja sudah kita capai. Jangan sampai penghasut mengoyak-ngoyaknya karena kejiwaan mereka yang terganggu.[]

Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan dan politik, penulis Novel Aceh 2025.