Dua mobil angkutan umum berwarna merah gadung, bertuliskan Cendrawasih. Masyarakat di Aceh, umumnya mengenal akan mobil itu dengan sebutan BE. Angkutan itu terparkir di tepi jalan Gampong Pande, Peulanggahan, Banda Aceh. Di hari Minggu, yang bertanggal 21 Agustus 2016.
 
Kampung Pande merupakan salah satu tempat yang memiliki banyak sejarah bagi Aceh, ia menyimpan ribuan rahasia tempo dulu. Yangmana di sekitarnya, akan didapati banyak batu nisan terdahulu. Ialah Saksi bisu, dan terus akan membisu.
 
Puluhan anak-anak SMAN 5 Lhokseumawe, mondar-mandir di tepi rawa yang ada di samping jalan kampung tersebut. Tujuan mereka untuk mengunjungi, sekaligus membersihkan tempat-tempat bersejarah yang ada di Aceh. Sebelumnya, mereka sudah terlebih dahulu mengunjungi makam Poe Teumeruhoem di Lamno, Aceh Jaya.
 
Ke kampung Pande adalah tujuan yang bersahaja, mereka-mereka itu mahu membersihkan, menanam kembali batu-batu nisan yang sudah rebah dan terendam oleh air. Nisan-nisan tersebut merupakan, bukti peninggalan dari sejarah di masa lampau.
 
“Ini adalah agenda terakhir anak-anak, sebelum kembali lagi ke Lhokseumawe sore nanti,” ujar Sabaruddin, salah seorang guru yang ada di tempat tersebut.
 
Batu-batu itu terukir dan bertuliskan lafaz-lafaz mulia, jarang ditemui akan ukiran seperti demikian di zaman ini. Dan sangat-sangat perlu sekali untuk dijaga, dipugar. Karena memang memiliki nilai sejarah yang begitu besar daripadanya. Semua ‘kita’ mengetahui tentang pentingnya hal itu.
 
Akan tetapi, sampai pada hari inis seperti dibiarkan begitu saja, tidak terurus, terendam di dalam air, tertanam lumpur dan semacamnya. Seakan tidak ada yang bertanggung jawab atas hal tersebut, seakan dengan sangat-sangat sengaja dibiarkan begitu saja, sungguh miris.
 
“Di manakah anda-anda yang punya andil, kekuatan, anda-anda yang bertanggung jawab penuh dalam bidang menjaga, merawat, melindungi tempat-tempat bersejarah ini?” Penulis berguman sendiri.  
 
Beberapa orang guru dan juga pengawas dari anak-anak sekolah tersebut juga terlihat di sana, di antaranya. Wido Wahyudi, Al Muzalir, Hendra Rahmadi dan lainnya. Guru-guru dan pengawas itu juga terlihat sangat bersemangat, senantiasa menyemangati anak-anak didik dan mereka sama-sama bekerja.
 
Begitu juga dengan beberapa pegiat dari MAPESA, mereka juga ditemui di tempat tersebut. Semua yang ada di rawa-rawa itu, terus bekerja. Di bawah terik matahari, di dalam air. Basah baju bercampur lumpur, tidak menjadi halangan. Dan semangat memelihara berpihak bersama mereka.
 
Beberapa dari nisan tersebut telah berhasil diangkat dari dalam air dan ditanam kembali. Mereka terus bekerja. Penulis juga ikut turun ke dalam rawa tersebut, untuk melihat lebih dekat proses pengangkatan batu-batu yang sudah menjadi bagian dari sejarah di Aceh ini. Hari mulai sore, mereka pun menyudahi kegiatan meuseraya itu.
 
Anak-anak muda berjiwa pemelihara itu, membersihkan diri di Meunasah terdekat. Walaupun berkubangan lumpur, mereka terlihat bahagia. Hari Minggu di tanggal 21 Agustus ini, mereka telah membuktikan kecintaannya akan sejarah. Dengan demikian, tanpa disadari oleh diri, bahwa mereka juga telah menjadi bagian dari sejarah, di dalam hidupnya.  

Laporan Syukri Isa Bluka Teubai