BANDA ACEH – Muhammad Yusuf Bombang, pimpinan Grup Rapa-i Pase Raja Buwah, menceritakan bagaimana pengalamannya dalam menghadirkan kembali Rapa-I Pase setelah lama hilang, Banda Aceh, Senin 30 Juli 2018.

Awal kisahnya, tahun 1989, ia sebagai salah seorang yang sangat menyukai jenis kesenian tersebut berinisiatif untuk menggerakkannya kembali.

“Yang sangat memprihatin bahkan ada sudah membuangnya, tidak diperdulikan lagi. Ada balohnya (kayu bingkainya) yang sudah dijadikan tempat ayam bertelur, ada yang sudah dijadikan sebagai bantalan tempat membelah buah pinang, ada yang dijadikan tempat tampungan pembuangan air comberan bahkan ada yang dibiarkan hingga tertanam dalam tanah,” kata Yusuf.

Karena itu, Yusuf kemudian mengadakan rapat dengan melibatkan semua pemilik rapa-i, para geuchik (Ketua Kampung) seluruh Kemukiman Buwah, Camat dan tokoh masyarakat lainnya. Ia  menyatakan keinginan agar rapai pase dapat diaktifkan kembali, dengan janji akan ia tampilkan di Banda Aceh.

“Sejak saat itu kami sepakat dan menabalkan nama dari Kelompok Rapai Pase Raja Buwah menjadi Grup Rapai Pase Raja Buwah. Saya memohon kepada masing-masing orang pemiliknya untuk mengumpulkan kembali, memperbaiki, memasang kulit dan merawatnya,” katanya.

Kemudian katanya di hampir semua kampung yang pernah punya rapa-i pase di Aceh Utara dan Aceh Timur waktu itu pun kembali bersemangat mengaktifkan kelompoknya. Juga di tahun 1991 atas inisiatif salah satu partai politik (Golkar) Aceh Utara dalam rangka merayakan HUTnya diadakanlah pertandingan (uroh) rapai pase yang diikuti oleh beberapa kelompok rapai pase di Aceh Utara.

“Tahun 1991, seperti yang saya janjikan, 150 orang pemain rapai Pase dari satu Mukim Buwah Aceh Utara dan Mukim Madat Timur saya tampilkan di Taman Budaya Banda Aceh. Hasil penampilan perdana di Banda Aceh yang ikut digemakan oleh berbagai media massa saat itu ternyata berpengaruh besar,” kata Yusuf.

Berikut adalah catatan kunjungan yang pernah dilakukan Grup Rapa-I Pase Raja Buwah:

Tahun 1992

Grup rapai Pase Raja Buwah yang dibinanya diundang untuk tampil dalam acara peresmian kapal Perang RI di Pelabuhan Krueng Geukueh Lhokseumawe Aceh Utara Oleh Panglima TNI Jenderal Tri Sutrisno. juga diundang ke Bandung oleh Mahasiswa Aceh.

Tahun 1993

 Ikut Festival Rebana Tingkat Nasional di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Dan ikut Festival Drum International di Ancol Jakarta.

Tahun 1994

Ikut Festival Istiqlal Jakarta.

Tahun 1995

Ikut Festival Istiqlal Jakarta, dan tahun itu  juga grup Raja Buwah binaan Yusuf itu tampil dalam pertujukan U-Rock Musik (Kolaborasi Rapai Pase dan Musik Rock) di Taman Budaya Banda Aceh.

Tahun 2007

Tampil kolaborasi bersama kelompok musik Moritza Thaher dalam acara Thanks to The Work di Taman Budaya Banda Aceh.

Tahun 2010

Grup Rapa-I Pase Raja Buwah tampil dalam acara pembukaan Pekan Kebuyaan Aceh (PKA) di Banda Aceh.

Tahun 2015

Tampil dalam acara Festival Rapa-i di Lam Reung Aceh Besar, dan tampil dalam acara Pembukaan Hari Nusantara di Banda Aceh.

Terkait dengan jenis/bentuk permainan, Muhammad Yusuf Bomba mengatakan, Rapai Pase dari Grup Raja Buwah memiliki beberapa jenis/ bentuk permainan:

1.      Permainan jenis pertama disebut Uroh, menggunakan semua rapai besar yang digantung dan dimainkan sambil berdiri serta saling berhadapan dua kelompok saling bersahutan tabuhan rapai. Jenis permainan ini tidak menggunakan syair, hanya tabuhan rapai.

2.      Jenis permainan kedua disebut Zikir Pase, yaitu menggunakan rapai kecil yang pemainnya menabuh dalam posisi duduk serta beberapa kombinasi gerakan sesuai lagunya dan ditambah dengan empat atau enam rapai besar yang pemainnya menabuh dalam posisi berdiri dibelakang pemain rapai kecil. Jenis permainan Rapai Zikir zikir Pase ini menggunakan syair/lagu yang dipimpim oleh syeh serta diikuti secara bersahutan oleh para pemain lainnya.

Yusuf mengatakan Rapai Pase Raja Buwah sudah ada di daerah Mukim Buwah Kecamatan Baktiya Barat Aceh Utara sejak ratusan tahun jauh sebelum kemederkaan Indonesia. Bahkan menurut cerita para orang tua secara turun-temurun kelompok tersebut memang sudah sejak jaman kerajaan Pase. Hingga jaman penjajahan Belanda kelompok tersebut terus aktif.

“Konon menurut cerita salah satu unit rapai pase berukuran besar dan panjang, seukuran bedug, milik dari kelompok tersebut diambil dan dibawa  oleh Belanda ke negerinya dan hingga sekarang masih disimpan di museum negeri Belanda, Denhag,” kata Yusuf.

Di era era tahun 1970-an Yusuf mengatakan, kelompok Rapai Pase Raja Buwah dan beberapa kelompok lain sekitarnya waktu itu masih terus aktif.

 “Kemudian secara perlahan jenis kesenian ini terus menghilang, terlebih lagi disaat awal-awalnya masa konflik hingga diberlakukan DOM di Aceh. Kini Rapa-i Pase mendapatkan tempatnya kembali,” kata Yusuf.[]