Dengan cinta sebiji pasir
di galaksi luas,
atau lebih kecil dari itu,
aku datang padaMu.

Dengan amuk masa lalu
dan batin dan badan
yang kikuk, lusuh-layu
aku buka sepuluh jemariku.

Dengan malu, takut dan harap
rasa ingin bersedekap itu
sangat takjub. Ia mengisi bilik rindu
padaMu:
Bilik dalam ikatan gelombang waktu
yang mengayun lewat lafaz asma'Mu,
Mengeja kembali makna diri
untuk tiba di ujung penantian.

Duhai…sebiji pasir yang hina
takkan melampaui apapun
dalam pencarian ini.

Sepuluh jemariku yang terbuka
takkan menjangkau semua pengertian
tentang rahasia Engkau dan aku.

Ini hanya munajat
dalam cumbu takut dan harap,
itulah cinta sederhanaku.

Taufik Sentana
Peminat sastra sufistik.