PERTH — Sebuah LSM perempuan Muslim menyatakan komentar yang mengaitkan Islam dengan terorisme berdampak langsung terhadap keamanan mereka. Mereka meminta tokoh publik agar lebih bertanggung jawab dalam melontarkan komentar.

Wakil ketua LSM Muslim Women's Support Centre of Western Australia Wajma Padshah kepada ABC mengatakan sebagian komentar menyulut ketakutan tak beralasan di tengah masyarakat.

“Yang kami lihat adalah setiap kali muncul komentar dari sebagian politisi atau tokoh publik dengan komentar miring mengenai Islam, sering dilandasi kebodohan, hal itu menyulut ketakutan bagi masyarakat. Ada hubungan langsung (antara komentar seperti itu) dengan serangan terhadap wanita Muslim dan keselamatan mereka terancam,” ujarnya.

Dia mengatakan pelecehan bisa terjadi dimana saja, termasuk di tempat kerja, di tempat umum, perbelanjaan dan wanita yang mengenakan jilbab paling berisiko.

“Bagi wanita Muslim, hal ini merupakan situasi yang menyedihkan. Hal ini membuat mereka ketakutan keluar dan terlibat dalam masyarakat. Ini cerita yang tak kita dengar. Kaum wanita tinggal di rumah karena takut pergi ke pusat pertokoan setempat untuk melakukan apa yang perlu mereka lakukan,” katanya.

Pelecehan di atas bus

Belum lama ini, kata Wajma, seorang teman dekatnya dilecehkan di atas bus di Perth.

“Ada penumpang wanita lain yang bersamaan naik dan melontarkan kata-kata tidak sedap dan bilang ke sopir bus, 'dia perlu diturunkan sebab saya tidak akan naik bus yang sama dengannya. Bagaimana kalau dia ledakkan bus ini?'” kata Wajma.

“Sopir bus menanggapi penumpang wanita itu dengan mengatakan akan memanggil petugas keamanan jika tidak turun. Hal itu tepat sekali, sudah seharusnya begitu, namun karena jam sibuk dan teman saya tak ingin menahan bus itu lebih lama, makanya dia yang memilih turun,” katanya.

Seorang penumpang pria bersama rekannya memilih ikut turun guna menunjukkan simpati bagi teman Wajma itu. Mereka bahkan menawarkan untuk sama-sama menunggu bus selanjutnya dan memastikan pandangan penumpang wanita itu bukanlah pandangan mayoritas orang Australia.

“Dia turun dan meyakinkan dia (teman Wajma) dan hal ini sangat berarti baginya,” kata Wajma.

“Namun akan lebih indah lagi seluruh penumpang bus turut membela dia dan bilang ke penumpang wanita itu dengan sopan, 'dia berhak naik bus dan Anda tidak tidak perlu takut. Jika tidak ingin ada di sini, Anda bisa turun dan naik bus berikutnya,” ujar Wajma.

Pembuat Ketakutan Perlu Bertanggung Jawab

Wajma menambahkan, peristiwa di atas bus itu membuat temannya ketakutan dan khawatir apakah dia bisa naik bus kembali setelahnya. “Ini bisa menguras emosi,” katanya.

Menurut dia, kejadian seperti inilah yang perlu dipahami oleh mereka yang berkomentar mengaitkan orang Islam dengan terorisme. “Memang mereka memiliki kebebasan bicara namun perlu menggunakannya lebih bertanggung jawab, sebab kita tahu pasti komentar yang muncul sangat berdampak langsung bagi masyarakat Islam, terutama perempuan yang kelihatan sebagai Muslim,” katanya.

“Kami mengakui bagi sebagian ketakutan itu nyata. Mungkin kita menganggapnya lucu atau ngeri, namun bagi sebagian, hal itu nyata,” kata Wajma.

“Kami mengembalikan tanggung jawab ini kepada mereka yang menggunakan retorika dan menyebabkan ketakutan tanpa alasan bagi masyarakat yang kemudian menanggapinya dengan cara tidak masuk akal,” katanya.

Wanita didorong melapor

Wajma mengatakan, kaum wanita yang mengalami kekerasan dan pelecehan harus melaporkannya ke polisi atau jika mau, ke LSM mereka. “Tempat kami memiliki hubungan dengan petugas polisi yang mendukung dan bersedia menangani,” katanya.

LSM itu juga menawarkan dukungan emosional bagi wanita Muslim. “Saya pikir ini menyangkut rasa memiliki. Kita perlu mengingatkan diri kita adalah orang Australia seperti orang lain,” katanya.

“Kita bagian dari negeri ini dan berkontribusi dengan banyak cara yang berbeda. Jangan biarkan orang meredupkanmu dan tetaplah bersinar dan bertahan,” ujar Wajma.

Mendukung tapi tidak memarahi

Jika Anda melihat seseorang dilecehkan dan ingin membantu, Wajma menyarankan untuk membela korban tapi tidak terlibat argumen dengan pelaku. “Penting bagi orang (korban) untuk menerima beberapa pengakuan Anda bersama mereka,” katanya.

“Daripada merespons dengan kata-kata, Anda bisa berdiri di samping mereka dan mengatakan, 'Saya bersamamu menentang perilaku ini'. Panggil petugas keamanan atau polisi jika diperlukan. Tidak sepenuhnya omelan lisan akan membantu ketika seseorang (pelaku pelecehan) telah melakukan hal sejauh itu,” ujarnya. | sumber : republika