BANDA ACEH – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Teungku H Muharuddin, menanggapi perihal rumah Salmawati dan Abdul Rahman di Gampong Cot Petisah, Kecamatan Seunudon, Kabupaten Aceh Utara.
“Ini menyangkut nama baik, juga untuk menghindari pemutaran balik fakta oleh pihak lain sebab mereka tahu bahwa saya tim pemenangan Mualem. Sebenarnya, rumah milik Salmawati dan Abdul Rahman itu berjarak sekira hampir dua kilo meter dari rumah kami. Boleh diukur. Itu di kampung berbeda, rumah mereka di Gampong Cot Petisah, rumah saya di Gampong Matang Panyang. Jadi, kabar sebelumnya yang menyebutkan itu sekira seratusan meter dari rumah saya adalah keliru, boleh diukur,” kata Muharuddin, Sabtu 8 Oktober 2016, sekira pukul 23:30-an WIB.
Muharuddin mengatakan, Abdul Rahman pernah ke rumahnya membawa proposal untuk rumah itu pada tahun 2015 dan poroposal tersebut diberikannya kepada Dinas Cipta karya. Tapi, kata dia, saat itu sudah lebih dahulu ada hampir 800 unit rumah yang ditentukan akan dibangun oleh Cipta Karya.
“Ada sekitar 200-an unit rumah lagi di platform DPRA, saya masukkan lagi proposal Abdul Rahman, namun, lagi-lagi ditolak oleh Cipta Karya, karena saat itu ada bencana, baru terjadi kebakaran di beberapa tempat termasuk Abdya, dan semua jatah membangun rumah dialihkan ke korban kebakaran,” kata Muharuddin.
Politisi dari Partai Aceh ini mengatakan, tentang hal tersebut, ia akan mengambil langkah mendesak secepatnya. Ia mengaku, walaupun telah memperjuangkan proposal rumah tersebut dapat cair, namun ia tidak mengetahui keadaan sebenarnya rumah itu. Karena, kata dia, saat pemilik rumah tersebut mengunjungi lagi dirinya di Matang Panyang pada Hari Raya Haji 1437 H/2016, ia tidak sempat mendengarnya secara utuh.
“Saya tidak sempat mendengar lengkap. Saya pikir saat ia bicara rumahnya harus dibangun, mungkin adalah kamar, ada dapur, ada tempat tidur ada,” katanya.
Ketua DPRA ini mengatakan, ia akan mengunjungi Abdul Rahman dan memediasi cara lain untuk bisa membantunya, baik dengan cara uang pribadi atau partisipasi masyarakat, atau mungkin bisa dihubungkan dengan program Cet Langet cetusan Edi Fadhil.
“Mungkin dengan patungan beberapa orang bisalah dibangun rumah itu, seperti pernah kita coba waktu lalu di Paya Bakong, hasil dari medsos juga, melalui Edi Fadil dan rekan lain,” kata Muharuddin.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, rumah Abdul Rahman dan Salmawati itu berlantai tanah, berdinding papan, beratap rumbia, tidak memiliki kamar, ditopang kayu-kayu tua. Kala hujan turun, air membanjiri gubuk itu.[]



