Saya baru tahu tentang Namik Kemal dari sosiolog Dr Mehmet Ozay. Walaupun baru mengenalnya melalui data yang ada, saya langsung menyukai penyair yang filsuf, ideolog, dan aktivis ini. Karena, ia bukan menulis tentang kelagauan hidup atau puja puji, akan tetapi ia melakukan sesuatu untuk bangsanya, sebuah gerakan sosial budaya dan politik. Ia mewujudkan ide-idenya, dan hidupnya sendiri manjadi harga untuk itu.
Namik Kemal mengingatkanku pada Mohammad Iqbail, penyair yang filsuf dari India yang melahirkan negara Pakistan. Bedanya, Iqbal sengaja kuliah ke Inggris, tapi Namik Kemal belajar pada guru terbaik di Turki, dan pengenalannya secara langsung dengan tokoh Barat saat ia mengasingkan diri.
Sebagaimana disiarkan laman britannica.com, dalam esai bertajuk Nanik Kemal, Penulis dan Reformis Sosial, Namik Kemal bernama lengkap Mehmet Kemal. Ia lahir pada 2 Desember 1840, di Tekirdag, Kekaisaran Ottoman (sekarang di Turki), meninggal dunia pada 2 Desember 1888, di Gum (sekarang di Chios, Yunani).
Namik Kemal merupakan penulis prosa dan penyair besar Turki yang sangat mempengaruhi kaum muda Turki kala itu dalam gerakan nasionalis Turki dan berkontribusi besar sastra Turki.
Ia seorang turunan bangsawan yang dididik secara pribadi tentang budaya Persia, Arab, dan Perancis, dan menjadi penerjemah untuk pemerintah Ottoman pada 1857-1858.
Pada suatu ketika, Namik Kemal berkenalan dengan penyair terkemuka dan memintanya menulis puisi dalam gaya Ottoman klasik. Kemudian ia dipengaruhi oleh penulis dan editor koran Tasvir-i Efkar, Ibrahim Sinasi, yang telah menghabiskan banyak waktu di Eropa dan terpikat dengan cara dan ide-ide Barat. Nanik Kemal menjadi editor Tasvir-i Efkar pada tahun 1865, ketika Sinasi melarikan diri ke Prancis.
Pada tahun 1867, tulisannya yang dinilai politis dilarang, dan Kesultanan Ottoman memburunya. Maka, Nanik Kemal bersama-sama anggota gerakan kaum muda lainnya–seperti kelompok reformasi penulis muda yang dikenal kemudian–melarikan diri ke London, Paris, dan Wina.
Namik Kemal menghabiskan waktu untuk belajar dan menerjemahkan karya penulis besar Perancis seperti Victor Hugo, Jean-Jacques Rousseau, dan Charles-Louis Montesquieu, ke dalam bahasa Turki. Ia juga menerbitkan surat kabar Hurriyet ( “Freedom”).
Ketika kaum muda Turki (Young Ottomans) kembali ke Konstantinopel (sekarang Istanbul) pada tahun 1871, Namik Kemal melanjutkan tulisan revolusionernya dengan menjadi editor koran Ibret, dan menulis karya paling terkenal, Vatan atau Silistra (Tanah Air atau Tanah Silistra), sebuah drama yang mengisahkan sekitar pengepungan Silistra pada 1854, di dalamnya ia menguraikan tentang ide-ide perjuangan dan liberalisme. Drama itu dikecam oleh pemerintah Ottoman yang menyebabkan Nanik Kemal ditangkap dan dipenjara di Siprus (1873-1876).
Sebagai seorang reformis sosial, Namik Kemal dikenal sebagai penyebar dua ide dasar: Tanah Air (“tanah”) dan Kemerdekaan (“kebebasan”), sebuah model ide yang berasal dari konsep Eropa dan ia kenalkan ke dalam bahasa Turki.
Meskipun seorang pemikir liberal, Namik Kemal tidak pernah menolak Islam dalam arti rencana reformasi. Dia percaya bahwa agama Islam sesuai dengan Turki modern yang menggunakan sistem pemerintahan konstitusional.
Novel Namik Kemal yang paling terkenal termasuk Intibah atau Otak sergüzesit Alien (1874; “The Awakening, atau, Pengalaman Ali Bey”) dan Cezmi (1887-1888), sebuah novel sejarah berdasarkan kehidupan seorang khan abad ke-16 dari Tatar Krimea. Juga yang mengisahkan tentang pekerja sosial, novel berjudul Mimpi ( “The Dream”), mengungkapkan semangat dan keinginan untuk membebaskan Turki dari penindasan.
Orang-orang Turki, tatkala menyebut Tanah Air dan Kemerdekaan (Kebebesan) senantiasa ingat pada Nanik Kemal. Dari tulisan-tulisannyalah kalimat yang menyemangati dan menyihir itu pertama kali didengar dengan makna dan tujuan yang lebih meluas.
Di sini, dapat kita lihat, bahwasanya sebuah ide yang dijalankan dan diwujudkan dengan penuh sungguh sekalipun bisa sedikit berwarna dalam perjalannya, tatkala sang pencetus ide itu telah tiada.
Makna kebebasan, yang dicetuskan dan diwujudkan oleh Namik Kemal berbeda saat diterapkan oleh orang lain. Seperti, pada masa empat puluh tahun setelah Namik Kemal meninggal dunia, di pengasingannya, Mustafa Kemal mewujudkan ide kebebasan itu dalam sebuah revolusi total.
Mustafa Kemal menghapus Kesultanan Ottoman dan mendirikan Republik Turki yang sekuler di atasnya. Ia kemudian dikenal sebagai Ataturk (Bapak Turki). Mustafa Kemal mendirikan sebuah negara yang anti Islam.
Sementara Namik Kemal, sang pencetus ide kemerdekaan itu mengatakan bahwa Islam sesuai dengan Turki modern yang memalkai sistem konstitusional. Kini, ide bahwa agama Islam sesuai dilibatkan dalam negara konstitusional umum sebagaimana dicetuskan Namik Kemal, sepertinya telah diwujudkan oleh Recep Tayyip Erdogan bersama AK Parti di Turki, sejak 15 tahun lalu. Namik Kemal yang meninggal dipengasingan, di Yunani bisa melihatnya, sebagaimana kita lihat sekarang.[]
Banda Aceh, 2 September 2016
Thayeb Loh Angen, penulis novel Aceh 2025







