ACEH UTARA – Aqila Fitriana (19 bulan), anak dari keluarga kurang mampu di Desa Meunasah Ampeh, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara, menderita infeksi saluran kencing, rahang tidak berfungsi hingga mengalami gizi buruk. Aqila terpaksa makan dan minum lewat selang Nasogastric Tube (NGT) yang dipasang melalui hidungnya.

Orangtua Aqila, Amiruddin (35) dan Deliana (30), harus membeli obat mencapai Rp1,8 juta sekali pesan untuk putri bungsunya itu. Di sisi lain, Amiruddin yang tidak memiliki penghasilan tetap, harus membiayai pendidikan dua kakak Aqila.

“Anak saya menderita sejak setelah dua hari dia lahir. Mulanya kejang-kejang. Melihat kondisinya seperti itu, kami bawa dia ke Puskesmas untuk mendapatkan penanganan,” kata Deliana kepada wartawan di rumahnya yang berkonstruksi kayu, Sabtu, 6 Februari 2021.

Deliana mengatakan setelah mendapatkan penanganan di Puskesmas, Aqila tidak kunjung sembuh. Anak itu kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum Cut Meutia (RSUCM) Aceh Utara pada November 2020.

“Bolak-balik untuk pengobatan di rumah sakit tersebut dan sempat dirawat di sana. Akhirnya pihak RSUCM memberikan surat rujukan ke Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) di Banda Aceh. Saya bawa Aqila ke RSUZA pada 8 Januari 2021. Hasil diagnosa utama dari dokter, anak saya mengalami gizi buruk. Penyakit lainnya infeksi saluran kencing dan rahang tidak berfungsi,” ungkap Deliana.

(Deliana menggendong Aqila yang menangis. Foto: Fazilportalsatu.com/)

Deliana menyebut Aqila tidak bisa mengunyah dan menelan makanan lantaran rahangnya tidak berfungsi. “Sehingga harus dipasang selang secara rutin antara tujuh sampai 10 hari sekali, dan harus dipasang oleh dokter atau perawat,” ujar ibu tiga anak itu.

Menurut Deliana, saat ditangani di RSUZA, dokter memberi pilihan, apakah Aqila dioperasi atau rawat jalan. “Saya dan keluarga memilih rawat jalan, tetapi harus beli obat, dan obatnya pun pesan dari Medan,” ucapnya.

“Harga obat itu sampai Rp1,8 juta sekali pesan. Jika berobatnya jangka panjang, kami kesulitan biaya. Suami saya tidak memiliki penghasilan tetap. Selain harus memenuhi kebutuhan sehari-hari, juga butuh biayai untuk dua anak kami lainnya yang masih sekolah,” tutur Deliana.

Deliana melanjutkan, “saya bingung mau bagaimana lagi, karena butuh biaya banyak untuk pengobatan anak. Seharusnya Aqila dibawa lagi ke RSUZA untuk dirawat, tapi saya keterbatasan biaya sehingga hanya bisa pasrah, berharap bantuan dari dermawan”.

Kepala UPTD Puskesmas Tanah Luas, Azmi, SKM., M.Kes., mengatakan, Aqila Fitriana menderita gizi buruk karena kondisi sebelumnya mengalami penyakit penyerta lainnya. Menurut dia, anak itu sering mengalami kejang-kejang. Upaya dari Puskesmas merujuk pasien tersebut ke RSUCM.

“Kita memberikan pelayanan semampu petugas di Puskesmas. Kita terus memantau kondisi kesehatan Aqila. Terlebih keluarganya itu selalu menyampaikan perkembangan kondisi kesehatan anaknya,” ujar Azmi.

Azmi membenarkan anak tersebut tidak bisa makan dan minum melalui mulut seperti anak pada umumnya, sehingga harus dipasang NGT atau selang makanan.

“Apabila anak itu sembuh dari penyakit penyerta, maka gizi buruk tersebut akan mudah ditangani,” ucap Azmi.[]