Muhammad Ismail (24 tahun), pengungsi Rohingya, datang dari Malaysia ke Aceh demi menemui istrinya yang terdampar pada gelombang pertama pengungsi Rohingya Juni 2020 lalu.

Meskipun berbahagia dengan situasi di Aceh, lelaki itu menganggap Malaysia lebih menjanjikan hidup yang lebih baik. Maklum, di Malaysia Ismail bisa bekerja dan mendapatkan uang. Berbeda dengan di Aceh yang tidak bisa melakukan apa-apa walaupun mendapatkan makan gratis.

Ismail membutuhkan uang untuk dikirim ke orang tuanya yang ditampung di kamp penampungan Bangladesh. “Sayang orang tua, kirim uang supaya mereka juga bisa makan sedap,” ujar Ismail.

Aceh sudah menjadi tempat terdamparnya Ismail dan ratusan pengungsi Rohingya sejak 2013 silam. Kedatangan muslim Rohingya ini semakin membuat masyarakat Aceh bersimpati. Terlebih karena sesama muslim dan kondisi pengungsi yang terusir dari tanah kelahirannya.

“Sudah seharusnya kita menolong atas nama kemanusiaan. Terlebih Rohingya dan kita itu sesama muslim. Jadi, kita wajib menolong mereka,” ujar Tarmizi, warga Aceh Utara.

Kejadian terakhir pada September 2020 lampau. Saat itu ratusan Pengungsi Rohingya diselamatkan nelayan Aceh meskipun sempat ada kekhawatiran karena sedang pandemi Covid-19.

Para pengungsi tersebut dikabarkan berasal dari Kamp Cox’s Bazar, Bangladesh.

Meski bukan yang pertama, kehadiran muslim Rohingya tersebut menarik perhatian warga. Warga berhamburan mendatangi lokasi untuk melihat kondisi pengungsi. Beberapa sekaligus datang dengan membawa berbagai bantuan seperti pakaian, makanan hingga masker.

Pengungsi Rohingya ini memang seperti Ismail yang tidak bermaksud tinggal di Aceh. Sehingga tidak heran, banyak dari mereka akhirnya pergi dari shelter satu persatu.

“Dugaan kita ada pihak yang membantu mereka kabur dari shelter, sebab mereka belum menguasai jalan di kawasan Aceh Utara,” ujar Amir Hamzah, Kabag Humas Pemkab Aceh Utara saat itu kepada awak media.

Selain itu, menurutnya, pengungsi Rohingya tersebut ingin ke Malaysia, bukan Aceh. “Tujuan mereka sebenarnya Malaysia bukan Aceh,” kata Amir Hamzah yang kini menjabat Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Aceh Utara.

Banyaknya pelaku perdagangan manusia, menyebabkan pemerintah Indonesia harus buru-buru menyelamatkan mereka.

Pada tanggal 10 Februari lalu, rapat koordinasi yang dilakukan di Kementerian Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) menghasilkan kesepakatan pemindahan sejumlah pengungsi Rohingya dari Kamp Lhokseumawe ke lokasi penampungan di Medan.

Pemindahan dilakukan secara bertahap, kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak dan pengungsi dewasa.

Keterbatasan kapasitas dan sumber daya salah satu alasan Pemko Lhokseumawe. Alasan lainnya, meminimalisir pelaku Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

“Kemudahan akses bagi IOM dan UNHCR yang keberadaannya lebih besar di Medan diharapkan dapat meminimalisir risiko perdagangan atau penyelundupan pengungsi,” demikian bunyi dokumen rekomendasi hasil rakor.

“Mereka dari penampungan sementara, kita pindahkan ke tempat yang lebih aman di Medan. Karena di sana programnya sudah terstruktur dan sudah lumayan lama bekerja sama dengan Dirjen Keimigrasian juga, untuk proses perlindungan di Medan,” kata Sonya Syafitri dari IOM.

Ismail dan istrinya, jadi salah satu prioritas yang dibawa ke Medan pada akhir Maret lalu bersama 34 pengungsi lainnya dalam dua bus.

Di Medan, para pengungsi rencananya akan ditempatkan di lokasi kos-kosan.

Pengungsi Rohingya seperti Ismail memang harus menempuh jalan panjang untuk mendapatkan kewarganegaraan dari negara ketiga.

Ismail berharap bisa menjadi warga negara Kanada. “Bisa pergi ke Kanada, hidup di sana enak, bisa kerja dan dapat (uang) Dolar. Uang mau dikirim ke mama papa,” ucap Ismail dengan bahasa Melayunya yang patah-patah. [](Zulfikar Husein)